Renungan Islam | Jamaah dan Essensi Persatuan Umat (2)


A. Identitas Anggota Jamaah

Ibarat pohon yang akarnya menghunjam kuat dan daunnya rimbun mencakar langit. Demikian pula dengan jamaah, akarnya adalah tauhid, batangnya adalah persaudaraan, daunnya adalah zikir, dakwah adalah bunganya yang semerbak penuh kasih, dan akhirnya bersiaplah memetik amal prestatif yang akan memberikan rahmat bagi alam sekitarnya (rahmatan lil ‘alaamin).

Ciri atau karakter orang mukmin yang berhimpun dalam jamaah tersimpulkan dalam sepuluh mutiara akhlak orang beriman yang akan diuraikan berikut sebagai bahan renungan bagi yang ingin mengembangkan kehidupan rohaninya dari seorang muslim menjadi mukmin. Sepuluh mutiara akhlak mukmin itu di antaranya sebagai berikut:
1. Berpikir dan bertindak sesuai dengan petunjuk dan wawasan Al-Qur’an (Quranic Oriented).

2. Melaksanakan hijrah dan jihad dengan penuh rasa tanggung jawab dan keikhlasan.

3. Tampak semangat persaudaraannya diantara sesama mukmin yang sangat kental dan penuh kasih.

4. Sangat menghargai keputusan musyawarah, selalu bertindak amanah menjaga keluhuran budi, indah akhlaknya, dan selalu ingin memberikan uswah atau keteladanan yang Qur’ani.

5. Sangat tabah (istiqamah) dalam menghadapi setiap cobaan dan rintangan.
6. Tawadhu dan rendah hati. Menjauhi sikap sombong, ta’asub (membanggakan diri).

7. Selalu dilanda obsesi untuk menjadikan hidupnya penuh arti dan bermanfaat bagi lingkungannya.

8. Isi dakwah dijadikannya sebagai salah satu panggilan jiwa, yang menunjukkan rasa tanggung-jawabnya yang besar akan kasih-sayangnya kepada sesama manusia dan sekaligus sebagai rasa cintanya kepada Risalatul Kurb.

9. Selalu ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya.

10. Rindu untuk menjadikan dirinya sebagai jembatan penyambung tali ukhuwah diantara sesama saudara seiman dan selalu ingin akrab dengan kaum dhu’afa.

Sepuluh mutiara kaum mukminin ini terangkum dengan sangat indah dan sempurna dalam Al-Qur’an, sehingga sangat dianjurkan selalu membaca, menghayati, dan mentafakuri makna ayat demi ayat yang terkandung di dalamnya, agar kita memperoleh nyata, pergaulan dunia dengan segala tantangannya.

B. Berwawasan Al-Qur’an (Quranic Oriented)
Anggota jamaah Rasulullah saw. bukan sekadar sekelompok manusia yang mengaku diri sebagai muslim, tetapi lebih jauh dari itu. Mereka adalah para mukminin, yaitu tipe manusia yang selalu merindukan agar sikap hidupnya, tarikan nafas, dan prestasi dunianya selalu sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Mereka membaca dan menerima A1-Qur’an bukan untuk penghias bahan retorika atau sekadar referensi pengetahuan dirinya, tetapi bagi para anggota jami’atul mukminin ini, Al-Qur’an dijadikannya sebagai sumber aspirasi untuk beramal secara konkret. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai benih yang memberikan energi baru yang sangat kuat, kemudian menabur bunga dakwah, lalu memetik buah prestasi yang menjadi keteladanan bagi siapa pun yang menyaksikan jamaahnya.

Mereka bukan tidak percaya dengan kekuatan kata-kata, atau mengabaikan teori. Akan tetapi, bagi kelompok jamaah ini, kata-kata dan teori tidaklah cukup, karena puncak dari misi pengabdian seorang mukmin adalah mengajak manusia pada kalimat yang sama, yaitu menjadikan tauhid sebagai pangkal kehidupan manusia di mana pun mereka berada. Kata-kata dan teori hanyalah jembatan atau alat untuk mengantarkan ke puncak dakwah, yaitu sikap hidup atau tindakan yang dimanifestasikan dalam bentuk tindakan yang mempunyai ciri sebagai uswatun hasanah (keteladanan). Bagi mereka: “tindakan dan perbuatan itu lebih membekas ketimbang hanya kata-kata (action speak louder than words; lisaanul-haali afsahu min lisaanul maqaali).”

Bertebaran ayat-ayat Al-Qur’an tentang ciri dari orang mukmin, yaitu mereka yang telah menjadikan cangkir kalbunya penuh terisi oleh kesejukkan citra Qur’ani dan rasa cinta yang mendalam terhadap Rasulullah saw. Pokoknya, Al-Qur’an merupakan sumber aspirasi dan dasar pijakan mereka untuk berpikir dan bertindak. Sehingga pantaslah kepada mereka diberikan judul Qur’anic Thinker (berpikir berdasarkan Al-Qur’an).

Seorang sahabat bertanya kepada Siti Aisyah r a., “Apakah akhlak Rasulullah itu.” Siti Aisyah menjawab, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an (khuluquhul Qur’an).” Maka ciri atau karakter yang paling dominan dari para pengikut Rasul tidak lain hanyalah meneladani Al-Qur’an. Sehingga, kalau saja ditanyakan kepada mereka, apakah yang menjadi sumber hukum dan petunjuk hidup, dengan tangkas dan antusias, mereka akan menjawab: pertama Al-Qur’an, kedua Al-Qur’an, ketiga Al-Qur’an, dan seterusnya. Sehingga, mereka ini tipikal manusia yang berpikir berdasarkan Al-Qur’an dan bersikap dengan Sunnah Rasulullah saw. Dirinya terasa tidak berarti apabila ada satu hari luput dari “sorotan kamera” Al Qur’an. Rasanya tidak berharga apabila perbuatannya tidak mencerminkan tindakan yang Qur’ani.

Seruan berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), tidaklah melulu hanya mendendangkan atau memperlombakan bacaan Al-Qur’an dan kemudian selesai. Bagi mereka memperlombakan esensi Al-Qur’an dalam akhlak dan prestasi amaliah yang nyata, justru merupakan aplikasi dari seruan fastabiqul-khairat tersebut. Mereka tidak pernah mempunyai motivasi untuk mendapatkan piala atau pujian manusia hanya karena membaca Al-Qur’an, tetapi dorongan yang paling menggebu di hati para anggota jamaah Rasul ini adalah kerinduannya untuk menyiarkan dan mengamalkan Al-Qur’an dalam bentuk yang membumi, nyata, dan ternikmati oleh manusia. Kalupun dia takzim, itu semua dikarenakan dorongan untuk memenuhi perintah agama. Karena hal tersebut merupakan salah satu perintah Rasulullah dalam metode dan pendekatan kita terhadap Kitab Suci.

Itulah sebabnya, salah satu program keluarga anggota jamaah, adalah menanamkan kecintaan putra-putrinya untuk menggemarkan membaca Al-Qur’an, menghafalkan surat-suratnya, dan secara tertib mulai menggali, menghayati, dan mengikat keluarganya dengan semangat Qur’ani. Sehingga tidak jarang di kalangan keluarga tersebut, ada putra-putrinya walaupun umurnya masih sangat muda, mampu menghafal puluhan surat, bahkan hafal Al-Qur’an.

Sayang sekali, dewasa ini pendidikan keluarga sudah sangat berorientasi ke dunia Barat dan tercabut dari akar fitrah diri seorang muslim. Dunia pendidikan keluarga dan sekolah menjadi gamang serta asing dengan ajaran agamanya sendiri, karena ada semacam “rekayasa kurikulum” yang justru menjebak para murid untuk menjadi manusia yang tumpul terhadap agama, otaknya encer, tetapi hatinya kering. Hardwarenya bertambah canggih, tetapi sayang software-nya terkena “virus” budaya Barat yang justru tidak pernah berangkat atau diniatkan sedikit pun untuk menjayakan siar Islam.

Sebab itu, janganlah terlalu kaget apabila ada sebuah keluarga muslim yang ternyata seluruh keluarganya tidak mampu membaca Al-Qur’an. Jangan pula heran apabila di rumah, ternyata pada rak bukunya tidak terdapat Kitab Suci Al-Qur’an. Bagi mereka bergengsi apabila rak buku yang dipajang di ruang tamu itu, penuh sesak dengan sederetan buku-buku tebal, dan mulai Encyclopedia Britanica, Americana, sampai National Geogyaphic. Jangan terlalu mengharapkan untuk melihat dinding kamar putra-putri muslim, terpampang kaligrafi atau tulisan-tulisan tentang hadits atau nasihat, karena kamar seorang putra yang modern harus dihiasi dengan segudang penyanyi musik rock, pop, dan rap. Adakah masih tersisa secercah kebanggaan untuk menjadi seorang manusia Qur’ani?

Ada sebuah adat istiadat yang mulai pudar di kalangan kaum muslimin dewasa ini, yaitu menguji calon mantu dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’annya, sehingga bapak mertua merasa bangga mempunyai calon menantu yang takzam, akrab, dan membaca Al-Qur’an dengan tartil sebagai jembatan menuju amaliah Qur’ani. Jangan-jangan apa yang digambarkan oleh Rasul bahwa kelak akan datang satu zaman di mana Al-Qur’an hanya tinggal bacaannya saja, walaupun pelan tapi pasti, sebenarnya sudah mulai datang dan menyelinap dalam kehidupan kita yang mengaku diri sebagai muslim.

Cobalah simak sesekali mengenai upacara-upacara keagamaan yang ternyata tidak jarang di dalamnya dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Akan tetapi sayangnya, para hadirinnya tidak pernah merasakan kesejukan dan terpesona dengan bacaan ayat suci tersebut, padahal salah satu tanda orang yang beriman apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, maka mereka tersengkur, terharu, dan meleleh air matanya, karena jiwanya diingatkan kepada Dia yang Maha Pencipta. Hal itu sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (al-Anfal: 2).

Mungkinkah Al-Qur’an hanya tinggal menjadi benda pusaka antik yang hanya pantas digelar sebagai maskawin (mahar) untuk pleengkap upacara ijab kabul pernikahan. Rumah dan masjid telah menjadi sepi dari gaung sahdu bacaan Al-Qur’an. Padahal, Rasulullah sering rindu untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang dibaca dengan suara yang merdu.

Bahkan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah r.a. Rasulullah saw meminta Abdullah bin Mas’ud untuk membaca Al-Qur’an untuk beliau. Rasulullah saw. bersabda, “Bacakanlah untukku!” Aku (Abdullah bin Mas’ud) bertanya, “Aku bacakan kepadamu, padahal ia diturunkan kepadamu?” Beliau bersabda, “Aku ingin sekali mendengarkannya dari orang lain.” Kemudian Aku membacakannya surat an-Nisa’
ketika sampai pada ayat 41 yaitu, “Maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” Beliau bersabda, “Cukuplah dahulu.” Aku melihat kedua air mata beliau berlinang. (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

C. Perdamaian (Ishlah) Wujud Reformasi Islami: Iman, Hijrah, dan Jihad
Bila kita mau konsekuen sampai ke lubuk hati dan menimba seluruh sunnah dan wasilah Al-Qur’an, niscaya kita akan lebih mengenal dan mempopulerkan kata ishlah, disamping kata reformasi. Dengan mempopulerkan kata ishlah di kalangan kita, diharapkan dapat lebih menumbuhkan gairah Islamiyah kita. Sebagaimana kita ketahui, kata “reformasi” mengingatkan kita terhadap budaya.serta cara metode gerakan dunia Barat yang diawali dengan kemelut di lingkungan Gereja Roma Katolik yang kemudian direformasi oleh Martin Luther dan Calvin. Sehingga, ada semacam nuansa Kristiani dalam kata reformasi tersebut. Tentu saja, kita tidak tabu dan mengharamkan kata reformasi, karena esensi dan maknanya yang mendalam telah kita tangkap dan bagian dari misi seorang muslim untuk selalu melakukan perbaikan. Akan tetapi tidakkah kita rasakan, betapa besarnya makna sebuah kata sebagai bentuk identitas umat Islam. Tidakkah kita rasakan bahwa dalam mempopulerkan sebuah “kata”, umat Islam tidak berdaya mengunggulinya. Padahal, bagi kita sudah sangat jelas bahwa semangat reformasi merupakan bagian dari misi Islam itu sendiri yang selalu melakukan perbaikan dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, Islam membawa misi reformasi, sebaliknya reformasi belum tentu membawa misi Islam.

Alangkah indahnya apabila kita memakai kata ishlah (perdamaian), sebuah kata yang melekat pada amal setiap muslim yang memberikan segala usaha untuk memperbaiki sesuatu, serta menjauhi segala bentuk kerusakan. Di dalam kata ishlah tersebut terkandung pula kata shalah (perbaikan) yang mempunyai esensi makna segala ikhtiar atau pilihan yang harus sesuai dengan kehendak Alah dan Rasul-Nya dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya. Kata ishlah sebagai usaha untuk melakukan usaha perbaikan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, merupakan lawan kata dari fasad (kerusakan).

Dengan memperkenalkan kata ishlah –dalam lingkup arti memper baiki kerusakan–dalam gerakan melawan kaum zionis Dajal ini, maka terkandung di dalamnya nuansa religius, etika, moral, dan tanggung jawab agar segala tindakan kita selalu sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya; memperbaiki yang rusak dan menyempurnakan yang bermanfaat.

Mengapa hal ini harus kita ke tengahkan? Tidak lain dalam rangka membersihkan hati dan pikiran, pada saat kita berupaya melakukan perbaikan. Sehingga tetap kita tetap pada metode (manhaj) Nabi dan jalan lurus-Nya (sirathal-mustaqim). Kekhawatiran ini tidaklah berlebihan apabila kita cermati konspirasi global kaum zionis, termasuk IMF yang selalu membawa kata “reformasi” sebagai persyaratan agar dana pinjaman dikucurkannya. Lalu, apa yang direformasi? Apakah di balik ini ada semacam pesan terselubung untuk menyingkirkan umat Islam dari panggung kehidupan masyarakat? Bukankah salah satu moto mereka “era reformasi baru” (new age reforms) sebuah misi untuk merombak dunia secara total, yang belum tentu membawa pesan-pesan Islami.

Memang benar, umat Islam tidak perlu terpaku dengan istilah tersebut. Karena dunia sudah menjadi global. Lagi pula bagi kaum intelektual dapat saja menjawab, “Apalah arti sebuah nama?” Padahal, bagi kaum muslim, nama merupakan sebuah identitas yang merupakan bagian dari Sunnah. Sehingga sejak dini, Rasulullah sangat menganjurkan agar kita memberikan nama-nama yang indah untuk putra-putri kita. Hal itu agar mereka lebih mendekatkan dirinya kepada Allah. Itulah sebabnya, kita bisa menjawab kaum intelektual itu dengan jawaban, “Ada berbagai makna yang baik pada sebuah nama, teman!”

Nama dan istilah bukan saja memberikan identitas dan makna, tetapi juga merupakan ukuran dan jiwa (muru’ah) dakwah. Ketika Islam terpinggirkan, berapa banyak kata dan istilah yang memakai bahasa sansekerta; bahasa fosil yang tidak memberikan getaran identitas. Padahal, ketika darah para syuhada yang merebut kemerdekaan dari kaum kufur, deretan nuansa Islam menghiasi kehidupan bernegara. Setidaknya, ada tujuh kata yang masuk dalam ideologi negara seperti: adil, adab, rakyat, hikmah, musyawarah, wakil, dan daulat.

Dengan demikian, seharusnya kita merasakan dengan penuh kenikmatan bahwa tiga kata ishlah, hijrah, dan jihad adalah mutiara yang paling indah, karena di dalamnya berisi begitu banyak hikmah serta roh perjuangan yang mampu mengantarkan manusia kepada kemuliaan dan kemenangan. Tiga kata yang tidak bisa terpisahkan, karena di dalam makna ishlah, ada semacam gerakan untuk selalu berbuat perbaikan, yang akan melahirkan “hijrah” dari yang batil menuju yang hak, dari yang gelap menuju yang terang dengan cara berjihad, yaitu mengerahkan seluruh potensi dan sumber daya untuk mewujudkan ishlah tersebut. Bahkan, hijrah kita tidaklah sekadar perubahan fisik, tetapi juga transformasi mental. Bahkan, kalau kita mau sedikit jeli menghayati makna hijrah, ternyata sejak Al-Qur’an diturunkan, sudah terdapat padanan kata hijrah pada surat al-Mudatstsir ayat 5, “Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah (war-rujza fahjur).”

Maka, salah satu ciri orang beriman adalah mereka yang melakukan hijrah mental, sebagaimana berulang-kali Al-Qur’an mengetuk kalbu kesadaran kaum beriman tentang makna dan keluhuran upaya untuk berhijrah ini. Hal ini sebagaimana firman-Nya:

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (at Taubah: 20).

Tiga kata yang dirangkai secara berututan pada surat at-Taubah:20 tersebut, yaitu iman, hijrah, dan jihad; tentunya mempunyai makna yang sangat mendalam. Tidak mungkin salah satu dari tiga rangkaian kata itu hilang, demikian pula tidak mungkin yang satu mendahului yang lain, karena semuanya sudah diatur dan disusun oleh Sang Maha Pencipta.

Orang tidak mungkin memperoleh nilai hijrah apabila upayanya itu tidak didasarkan pada iman. Demikian pula, orang yang mengaku berjihad, ia tidak akan mendapatkan nilai di sisi Allah, selama perjuangannya tidak didasarkan pada iman. Dan tidak mungkinlah orang disebut beriman, apabila keyakinannya tersebut tidak didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Hijrah berarti membuat garis tegas antara yang hak dan batil, membuat batas pemisah ( furqan) antara mukmin dan kafir. Bagaikan racun dan madu, tidak mungkin dua-duanya tercampur dalam satu gelas jamaah.

Maka dengan iman dan sikap yang istiqamah, jamaah mukmin berani mengambil risiko, meninggalkan segala kenikmatan, gelar, dan sanjungan masyarakat jahiliah untuk menerima penderitaan dalam menapaki jalan yang penuh dengan ironi. Akan tetapi, karena yakin akan pertolongan kepada Allah dan semangat yang istiqamah tersebut, menyebabkan dalam jiwa mereka tidak pernah mengenal kata menyerah, apalagi bersekutu dengan kejahiliahan. Sesungguhnya, mereka yang telah berkata bahwa Allah adalah Tuhan kami, kemudian mereka beristiqamah, tidak ada rasa khawatir pada jiwa mereka, juga tidak merasa gentar. Mereka adalah calon penghuni surga yang kekal sebagai balasan atas jerih payahnya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an pada surat al-Hujurat ayat 14-15.

Kualitas imanlah yang telah menjadikan mereka tidak lagi mempedulikan untung-rugi duniawi, apabila panggilan Allah menyeru nuraninya. Karena bagi mereka kebahagiaan yang hakiki itu adalah tercapainya jiwa yang bersih sebagai jaminan sukses di akhirat. Semangat seperti ini menjadikan generasi pelopor awal (assabiquunal awalun) menjadi umat yang unik yaitu yang tidak ada bandingannya sampai kapan pun. Lebih baik terisolasi, terkapar dalam derita daripada menggadaikan keyakinan. Apalah artinya kemuliaan dunia apabila akan disambut dengan penderitaan akhirat, sebagaimana firman Allah SWT:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri’….” (Saba’: 46)

Iman, hijrah, dan jihad merupakan tiga kata yang harus menghunjam dan mengakar di lubuk hati setiap mukmin, karena hanya dengan tiga karakter inilah pertolongan Allah akan datang mengangkat dan memuliakan setiap orang yang telah mengikrarkan syahadatnya dengan konsekuen. Tipu daya orang kafir yang dikemas dengan sangat cantik, apakah dalam bentuk kemajuan teknologi, kehidupan mewah yang konsumtif budaya bebas tanpa moral, semuanya tidak akan menggoyahkan muslim yang memiliki “tiga bintang” ciri orang mukmin tersebut. Allah telah berfirman:

“Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan .pertolongan para mukmin.” (al-Anfal: 62)

Apabila kualitas iman berbinar penuh cahaya langit, setiap anggota jamaah mukmin tidak pernah merasa khawatir menghadapi isolasi atau tipuan apa pun. Ayat itu menegaskan kembali bahwa yang akan menolong mereka hanyalah Allah dan sesama mukmin, sedangkan mereka yang nonmuslim tidak pernah akan peduli dengan ciri dan cara hidup demikian. Hijrah pada zaman sesudah Rasul, seperti zaman sekarang ini, tidak lain adalah melakukan suatu “renovasi diri” untuk memisahkan dan hanya berpihak kepada Allah dan jamaah orang-orang mukmin.

Dalam menghadapi konspirasi Dajal zionis yang semakin mengglobal ini, sudah merupakan aksioma bahwa Allah tidak pernah akan memberikan pertolongan kepada umat Islam, selama umat tidak berjihad, yaitu bersungguh-sungguh untuk meningkatkan diri sebagai seorang mukmin. Dan Allah tidak akan mengazab musuh-musuh Islam, selama ada sebagian umat Islam berada di tengah-tengah cara budaya kaum Dajal yang saling mendukung dengan orang-orang kafir secara campur baur. Hal ini dengan sangat tegas dinyatakan Allah dalam firmanNya:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka (kaum kafir), sedangkan kamu masih ada diantara mereka….” (al-Anfal: 33).

Tak ayal lagi, apabila kita ingin menjadi subjek dan memiliki harga diri, melepaskan segala jerat budaya Dajal, maka setiap mukmin harus berhimpun dalam suatu jamaah-sebagaimana metode atau Sunnah Rasul yang dimulai dari rumah salah seorang sahabat beliau yang kemudian dikenal sebagai Darul Arqam. Karena hanya orang mukmin yang berjamaah yang mampu memiliki kentalnya iman, berpadunya cita, dan kokohnya persaudaraan.

Berhimpunnya kaum mukmin akan membuahkan suatu kekuatan iman yang mahadahsyat. Sebaliknya, apabila kaum mukmin tercerai-berai atau terkotak-kotak, niscaya tanpa kita sadari kekuatan yang ditawarkan Allah telah dibuang dengan sangat mubazir. Bukankah Rasul bersabda bahwa hanya kambing yang keluar dari kelompoknya-lah yang akan diterkam srigala? Maka setiap pribadi muslim yang akan melakukan hijrah menuju ke pemukiman kaum mukminin itu, haruslah mulai dari sekarang. Oleh karena itu, pandai-pandai memilih teman yang senasib sepenanggungan, dan janganlah memilih teman lain kecuali Allah, Rasulullah, dan orang mukmin, sebagaimana termaktub pada surat at-Taubah ayat 16.

Kemampuan dan kesungguhan setiap muslim yang dinyatakan dalam kerja keras serta menyerahkan diri kepada-Nya agar dapat terpisah dari kebatilan menuju ke hak. Itulah yang disebut dengan jihad. Orang yang memiliki semangat jihad akan lebih waspada meniti buih kehidupan, dirinya sangat berkeinginan untuk selalu menjaga diri dengan penuh ketabahan. Itulah sebabnya, ketika seorang mujahid tidak terlalu banyak bersenda-gurau atau tertawa terbahak bahak, karena hal seperti ini bisa melambangkan kelalaian dan gampang terperangkap pada nafsu duniawi. Mukmin itu sesungguhnya lebih banyak menangis daripada ketimbang tertawa, sebagaimana termaktub pada surat al Anfal ayat 22.

Menangis merupakan lambang keprihatinan, sebagai salah satu ciri orang mukmin yang jiwanya sangat sensitif melihat penderitaan dan kesesatan manusia. Sehingga di sela-sela wiridnya selalu tersisipkan doa memohon pertolongan Allah bagi para mukmin yang dhaif (lemah) agar mereka diangkat dan dicerahkan jiwanya menjadi satu umat yang kompak dan kuat (ummatan wahidah).

Para anggota jamaah sadar bahwa dengan mendekatkan diri kepada Allah (taqarub), bertakwa, dan terus berikhtiar kepada-Nya, maka pertolongan dari Allah pasti datang yang berupa furqan, yaitu kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan batil, antara tauhid dan syirik, antara Al-Qur’an dan thagut seperti termaktub pada surat al-Anfal ayat 29. Hijrah dan jihad melahirkan rasa aman yang tidak terhingga dalam batin mereka, dan keikhlasan serta keridhaan yang tiada tara untuk menerima Allah sebagai cahaya benderang dari puncak harapan. Hidupnya memang hanyalah mencari keridhaan Allah semata, sebagaimana termaktub dalam surat at-Taubah ayat 100 dan al-Fath ayat 29.

Dengan hijrah dan jihad, seakan-akan dirinya telah tergadai hanya kepada hukum dan peraturan Allah. Mereka para anggota jamaah itu sangat merindukan perjumpaan abadi dengan Sang Kekasihnya dan mengharapkan agar Allah membeli dirinya dengan surga dan pengampunan-Nya, seperti termaktub pada surat at-Taubah: 111. Dengan kata lain, seruan yang kita dengar dari sang muadzin yang menyeru, “Marilah meraih kemenangan,” (hayya alal-falah), hanyalah akan menjadi seruan kosong, apabila kita tidak menyambutnya dengan hijrah dan jihad yang disulut oleh tali iman sebagai lambang kecintaan yang mendalam kepada Allah.

Orang mukmin yang telah berhijrah dan berpihak kepada Allah, apabila waktu shalat telah tiba, maka ia akan segera meninggalkan kesibukan dunia dan meraih sajadahnya untuk menyembah-Nya, karena Dia Sang Maha-segalanya telah menanti. Bahkan, dalam hadits disebutkan bahwa hal itu tidak sekadar hijrah, apabila sang mukmin secara konsekuen mampu menjadikan perilakunya ini sebagai suatu kebiasaan, maka shalat itu menjadi “mikraj”-nya orang mukmin. Orang mukmin yang telah berhijrah segera berpihak kepada Allah, ketika bisikan setan menggebu menggoda nafsu untuk memalingkan perhatiannya dari dzikrullah, maka seorang pemuda yang gagah adalah seorang yang mampu berhijrah dan berjihad; ketika dia mampu menolak rayuan seorang wanita, bagaimanapun cantiknya wanita itu, karena ia takut kepada Allah. Adalah sebagai hijrah, apabila kita mengubah mentalitas memikirkan diri sendiri (ananiyah) dengan mencintai jamaah, mengubah sikap cinta pada golongan, ras, atau keturunan menjadi kecintaan pada jama’ah, yaitu persaudaraan kaum mukmin.

D. Semangat Persaudaraan
Ketika gerakan dabbah Dajal yang muncul dari bawah bumi mengibarkan panji-panji fitnah di seluruh dunia Islam, seharusnya kita segera merapatkan diri dan melawannya dengan panji-panji persaudaraan yang nyata. Mereka akan segera melangkahkan derap “sepatu laars”-nya atas nama “polisi internasional” (Amerika) untuk memporak-porandakan umat beragama dengan cara mengadu-domba satu dengan lainnya. Mereka menjadi provokator yang paiing profesional agar umat Islam dan umat beragama lain bertarung, sehingga lelah dan tidak lagi mempunyai suatu kekutaan untuk menghadapi tipu daya kaum Dajal zionis tersebut.

Betapa mungkin kita akan memenangkan sebuah pertempuran, bila diantara kita sendiri saling memfitnah, bahkan yang paling gigih memfitnah sesama seiman dan seagama. Alangkah pedihnya jiwa, seandainya ada seorang pemimpin dengan penuh semangat menuduh sesama saudaranya. Pemimpin yang menuduh sesamanya yang nyata-nyata telah bersyahadat; yang telah pula menunjukkan kecenderungannya kepada kebenaran (al-hanif), dan telah menunjukkan amal-amalnya untuk Islam, difitnah dan dihujat sebagai orang yang seagama, tetapi tidak seiman. Bila memang ada peristiwa seperti itu, maka “bahasa” orang yang mengaku pemimpin itu tidak lain adalah “bahasa kaum zionis” yang memutar-mutarkan lidahnya bagaikan para Ahli Kitab yang menyisipkan kalimat kebohongan dan diakuinya datang dari Allah.

Pemimpin itu pun dengan tidak merasa berdosa sedikit pun menepuk dada sambil merangkul kaum kafir dan menginjak martabat sesama saudaranya seagama. Akhlak karimahnya telah tercerabut dari jiwa dan mereka menggantinya dengan akhlak dabbah. Mereka merasa sangat bahagia bila dapat menertawakan penderitaan orang tertindas yang merintihkan doa, seraya bercucuran air mata. Di manakah lagi kata maaf? Di manakah keluhuran budi umat yang telah dicontohkan Rasulullah saw. ketika memperlakuan musuh-musuhnya pada saat penaklukan Mekah?

Padahal, tidak ada yang paling indah dalam kehidupan manusia kecuali mempunyai sahabat seagama dan seiman. Betapa kentalnya nilai persaudaraan yang disambung oleh tali iman telah dibuktikan oleh para anggota jamaah Rasulullah, yang sekaligus sebagai bingkai kaca untuk bercermin dan menata kehidupan masyarakat Islam yang Qur’ani. Persaudaraan iman inilah yang menyatukan rasa, karsa, dan cinta dalam jamaah, yang mampu membongkar segala kebanggaan golongan (ta’asub), keturunan, ras, dan kebanggaan kelompok lainnya.

Akan tetapi, cobalah raba hati dan keadaan kita sekarang ini, betapa umat Islam yang terkena penyakit “mencintai dunia dan takut akhirat” (wahan), tercabik-cabik menjadi santapan orang-orang kafir dikarenakan hilangnya nilai persaudaraan diantara sesama muslim sendiri. Bila ukhuwah Islamiyah telah redup cahayanya, apakah mungkin menyambung tali ukhuwah bashariyah dan wathaniyah. Pelita hikmah tentang seruan Allah, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara….” (al-Hujurat:10) telah lenyap ditelan gemuruhnya pidato dengan gaya retorika yang hanya sebatas mencari pendukung golongannya, padahal janji-janji yang dikemas dengan bahasa retorika itu hanyalah manis dalam pernyataan, tetapi pahit dalam kenyataan. Jelaga hitam di hati kita, bertambah tebal dengan masuknya paham dan budaya kaum Dajal yang secara halus menyelusup bagaikan virus yang merusak cara berpikir umat, sehingga seluruh sikap dan keputusannya sudah sangat jauh dengan Al-Qur’an.

Prinsip demokrasi yang diagungkan dunia Barat, ternyata diterima di kalangan umat Islam dengan sangat mentah, sehingga telah menyebabkan tumbuhnya berbagai kepentingan (vested interest) berbagai pengkotakan, perbedaan paham, dan perbedaan cita yang dikonfrontasikan secara tajam, bagaikan lawan dengan rnusuh dalam arti yang sebenarnya. Organisasi atau partai yang semula secara ideal dianggap sebagai alat untuk menampung aspirasi program dan rencana pembangunan umat, justru menjadi “alat pembunuh” persaudaraan. Hanya karena berbeda partai atau organisasi, kadang-kadang kita menjadi berpikir hitam-putih (black and white). Sikap kebersamaan telah lenyap digasak kebanggaan kelompok dan yang mencuat secara dominan adalah sikap keegoisannya (keindividuannya) . Bahkan, bisa jadi kelihatannya mereka bersatu, padahal hatinya tidak pernah jumpa dan tidak ada kecocokan ide; kelihatannya berjamaah, padahal hatinya telah lama berpisah.

Kejayaan umat akan tampil kembali di panggung dunia, apabila kita mau melebur diri dalam satu jamaah yang di dalamnya berkumpul kaum mukmin yang maju menundukkan dunia secara bersaf, dan berkepribadian luhur sesuai dengan Al-Qur an, yaitu barisan yang tangguh bagaikan benteng yang kokoh. Masing-masing muslim, saat ini, telah sama-sama bekerja untuk berbagai keperluan terrmasuk sama-sama bekerja dalam siar dakwah. Akan tetapi disayangkan; hal itu belum mewujudkan suatu saling kerja sama yang total. Padahal, inti menuju bekerja sama, hanyalah dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber berpijak dan tindakan, serta Sunnah Rasul sebagai rujukan sikap hidup kita. Semangat merujuk dan melaksanakan dua sumber hukum utama Islam tersebut tidak boleh pudar, betapa pun hebatnya otak kita. Karena apalah artinya isi otak kita yang hanya beberapa sentimeter kubik, dibandingkan dengan kebesaran alam semesta hasil ciptaan Sang Mahaperkasa itu.

Kebersamaan sebagai salah satu buah persaudaraan itu mutlak berada di lubuk hati masing-masing. Setiap anggota jamaah merasa larut dan merasa satu wujud, karena nilai iman telah melebur dan sekaligus meruntuhkan segala perbedaan artifisial (palsu). Mereka yang mendambakan bunga dan buah persaudaraan, serta mau duduk sebagai anggota jamaah, maka tidak ada satu pun sekat atau tabir yang akan menyebabkan tumbuhnya prasangka serta sikap egois (ananiyah). Hati dan sikap mereka satu dan transparan, sehingga tidak ada satu kebenaran pun yang dia sembunyikan di hadapan saudaranya.

Sikap seperti ini menyebabkan para anggota jamaah merasa aman dan damai. Ibarat ikan dalam air, mereka tidak mau lagi keluar dari kolam jamaah. Cinta kasih, kelembutan, sopan santun, serta rasa tanggung jawab diantara sesama anggota muslim, merupakan ciri khas yang paling menonjol dalam pribadi para anggota jamaah. Demikian pula, dalam cara pernyataan keyakinan yang mencakup iman, syariat, dan prinsip-prinsip beragama dan berkehidupan, dinyatakannya dengan sangat banyak sekali. Keterangan maupun berbagai nash Islam ternyata memberikan satu pesan agar dalam menegakkan siar Islam, selalu menyeru kepada satu sikap iktidal (dipertengahan). Hal itu karena akan melarang sikap-sikap yang membuat rumit perilaku serta penalaran alami, seperti: berlebih-lebihan (ghuluw), merasa diri paling pintar (tanatthu), dan mempersulit atau membuat bertambah berat (tasydid).

Sebenarnya, banyak sekali ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi yang menyatakan agar dalam beragama, kita berada di pertengahan. Hal itu banyak disampaikan oleh Rasulullah, misalnya hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dengan Musnad-nya, an-Nasa’i dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya, dan al-Hakim dalam Mustadrak-nya. Dari Abdullah bin Abbas r a. bahwa Nabi saw bersabda:

“Hindarkanlah daripadamu sikap melampaui batas dalam agama (ghuluw), karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya.”

Tentang peringatan agar suatu kaum, bahkan Ahli Kitab sekalipun untuk bersikap tidak melampaui batas dalam agama, telah dinyatakan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Oleh dua sumber utama umat tersebut telah diberikan contoh beribadah yang ringan. Misalnya saja, dalam pelaksanaan rukun haji, yaitu dalam hal memilih batu untuk melempar (jumrah), hendaknya mengambil batu sebesar biji kacang, dan diperintahkannya agar tidak melampaui batas (kualitas lemparannya).

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, dari Abdullah bin Mas’ud. Ia berkata bahwa Rasullullah saw. bersabda “Binasalah kaum Mutanatthi’un” dan beliau mengulanginya tiga kali. Imam Nawawi berkata, “Al-Mutanatthi’un ialah orang-orang yang merasa dirinya benar dan merasa paling pintar, serta merasa paling menguasai ketika membahas sebuah perkara. Ucapan mereka penuh bara angkara yang membakar, sehingga kadang-kadang keluar dari sifatnya seorang panutan yang seharusnya tetap berpegang pada tata nilai qaulan ma’rufan (kata-kata yang indah menyejukkan). Nabi pernah menegur Mu’adz dengan keras karena Mu’adz memanjangkan bacaannya ketika shalat berjamaah, sehingga banyak orang yang mengadu kepada Nabi. Kemudian Nabi bersabda, “Apakah engkau ingin menimbulkan fitnah, hai Mu’adz?” Beliau mengulanginya tiga kali. Dalam peristiwa yang sama beliau bersabda pula:

“Sesungguhnya diantara kalian ada orang-orang yang menimbulkan antipati. Barangsiapa mengimami shalat bersama orang banyak (jamaah), maka ringankanlah (bacaannya) karena di belakangnya ada orang tua, orang lemah, dan orang yang mempunyai keperluan.” (HR Bukhari).

Bila kita membuat analogi antara seorang imam shalat dan imam pada sebuah masyarakat, tentunya prinsip-prinsip imamah itu harus melekat pada para pemimpin Islam. Dia rasakan denyutan kepedihan umat. Dia ringankan beban hidupnya. Dia sejukkan pula kegelisahan jiwanya, dan dia berikan pelita keteduhan kepada mereka yang berjalan menatap hari esok dengan ketidakpastian.

Ketika Nabi akan melepas Mu’adz dan Abu Musa ke Yaman, beliau bersabda, “Permudahlah olehmu berdua dan jangan mempersulit. Gembirakanlah dan jangan menyusahkan. Bersepakatlah dan jangan berselisih. ” (HR Bukhari dan Muslim)

Demikian pula dengan firman Allah, “…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….” (al-Baqarah: 185).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya agama ini adalah kemudahan. Dan tidaklah seseorang mempersulit agama, melainkan ia pasti akan dikalahkan. Maka dari itu bersahajalah, dekatlah, dan gembiralah.” (HR Bukhari dan Nasa’i).

Maka dalam tatanan pergaulan dengan siapa pun, hendaknya selalu menampakkan wajah dakwah. Sebuah refleksi tata etika kesopanan Islami yang sangat tinggi nilai luhurnya. Menyejukkan dan senantiasa memberikan kesan yang mendalam bagi pihak lain karena keteladanan akhlaknya.

E. Tiang Persaudaraan
Sebagaimana telah ditetapkan oleh para anggota Ikhwanul Muslimin yang dipelopori oleh Hasan al-Banna –semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya– prinsip persaudaraan itu dilandaskan pada empat tiang yang harus dibina secara kokoh, yaitu ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling menolong), dan takaaful (saling bertanggung jawab). Itulah empat tiang yang ditegakkan di atas landasan akidah kuat yang merupakan ciri khas dari mereka, yaitu para anggota jamaah di mana pun mereka berada, seperti yang dicontohkan oleh gerakan ikhwan.

dikutip dari buku “Dajjal dan Simbol Setan” karya Drs. Toto Asmara. Penerbit Gema Insani Press

A. Identitas Anggota Jamaah

Ibarat pohon yang akarnya menghunjam kuat dan daunnya rimbun mencakar langit. Demikian pula dengan jamaah, akarnya adalah tauhid, batangnya adalah persaudaraan, daunnya adalah zikir, dakwah adalah bunganya yang semerbak penuh kasih, dan akhirnya bersiaplah memetik amal prestatif yang akan memberikan rahmat bagi alam sekitarnya (rahmatan lil ‘alaamin).

Ciri atau karakter orang mukmin yang berhimpun dalam jamaah tersimpulkan dalam sepuluh mutiara akhlak orang beriman yang akan diuraikan berikut sebagai bahan renungan bagi yang ingin mengembangkan kehidupan rohaninya dari seorang muslim menjadi mukmin. Sepuluh mutiara akhlak mukmin itu di antaranya sebagai berikut:
1. Berpikir dan bertindak sesuai dengan petunjuk dan wawasan Al-Qur’an (Quranic Oriented).

2. Melaksanakan hijrah dan jihad dengan penuh rasa tanggung jawab dan keikhlasan.

3. Tampak semangat persaudaraannya diantara sesama mukmin yang sangat kental dan penuh kasih.

4. Sangat menghargai keputusan musyawarah, selalu bertindak amanah menjaga keluhuran budi, indah akhlaknya, dan selalu ingin memberikan uswah atau keteladanan yang Qur’ani.

5. Sangat tabah (istiqamah) dalam menghadapi setiap cobaan dan rintangan.
6. Tawadhu dan rendah hati. Menjauhi sikap sombong, ta’asub (membanggakan diri).

7. Selalu dilanda obsesi untuk menjadikan hidupnya penuh arti dan bermanfaat bagi lingkungannya.

8. Isi dakwah dijadikannya sebagai salah satu panggilan jiwa, yang menunjukkan rasa tanggung-jawabnya yang besar akan kasih-sayangnya kepada sesama manusia dan sekaligus sebagai rasa cintanya kepada Risalatul Kurb.

9. Selalu ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya.

10. Rindu untuk menjadikan dirinya sebagai jembatan penyambung tali ukhuwah diantara sesama saudara seiman dan selalu ingin akrab dengan kaum dhu’afa.

Sepuluh mutiara kaum mukminin ini terangkum dengan sangat indah dan sempurna dalam Al-Qur’an, sehingga sangat dianjurkan selalu membaca, menghayati, dan mentafakuri makna ayat demi ayat yang terkandung di dalamnya, agar kita memperoleh nyata, pergaulan dunia dengan segala tantangannya.

B. Berwawasan Al-Qur’an (Quranic Oriented)
Anggota jamaah Rasulullah saw. bukan sekadar sekelompok manusia yang mengaku diri sebagai muslim, tetapi lebih jauh dari itu. Mereka adalah para mukminin, yaitu tipe manusia yang selalu merindukan agar sikap hidupnya, tarikan nafas, dan prestasi dunianya selalu sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Mereka membaca dan menerima A1-Qur’an bukan untuk penghias bahan retorika atau sekadar referensi pengetahuan dirinya, tetapi bagi para anggota jami’atul mukminin ini, Al-Qur’an dijadikannya sebagai sumber aspirasi untuk beramal secara konkret. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai benih yang memberikan energi baru yang sangat kuat, kemudian menabur bunga dakwah, lalu memetik buah prestasi yang menjadi keteladanan bagi siapa pun yang menyaksikan jamaahnya.

Mereka bukan tidak percaya dengan kekuatan kata-kata, atau mengabaikan teori. Akan tetapi, bagi kelompok jamaah ini, kata-kata dan teori tidaklah cukup, karena puncak dari misi pengabdian seorang mukmin adalah mengajak manusia pada kalimat yang sama, yaitu menjadikan tauhid sebagai pangkal kehidupan manusia di mana pun mereka berada. Kata-kata dan teori hanyalah jembatan atau alat untuk mengantarkan ke puncak dakwah, yaitu sikap hidup atau tindakan yang dimanifestasikan dalam bentuk tindakan yang mempunyai ciri sebagai uswatun hasanah (keteladanan). Bagi mereka: “tindakan dan perbuatan itu lebih membekas ketimbang hanya kata-kata (action speak louder than words; lisaanul-haali afsahu min lisaanul maqaali).”

Bertebaran ayat-ayat Al-Qur’an tentang ciri dari orang mukmin, yaitu mereka yang telah menjadikan cangkir kalbunya penuh terisi oleh kesejukkan citra Qur’ani dan rasa cinta yang mendalam terhadap Rasulullah saw. Pokoknya, Al-Qur’an merupakan sumber aspirasi dan dasar pijakan mereka untuk berpikir dan bertindak. Sehingga pantaslah kepada mereka diberikan judul Qur’anic Thinker (berpikir berdasarkan Al-Qur’an).

Seorang sahabat bertanya kepada Siti Aisyah r a., “Apakah akhlak Rasulullah itu.” Siti Aisyah menjawab, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an (khuluquhul Qur’an).” Maka ciri atau karakter yang paling dominan dari para pengikut Rasul tidak lain hanyalah meneladani Al-Qur’an. Sehingga, kalau saja ditanyakan kepada mereka, apakah yang menjadi sumber hukum dan petunjuk hidup, dengan tangkas dan antusias, mereka akan menjawab: pertama Al-Qur’an, kedua Al-Qur’an, ketiga Al-Qur’an, dan seterusnya. Sehingga, mereka ini tipikal manusia yang berpikir berdasarkan Al-Qur’an dan bersikap dengan Sunnah Rasulullah saw. Dirinya terasa tidak berarti apabila ada satu hari luput dari “sorotan kamera” Al Qur’an. Rasanya tidak berharga apabila perbuatannya tidak mencerminkan tindakan yang Qur’ani.

Seruan berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), tidaklah melulu hanya mendendangkan atau memperlombakan bacaan Al-Qur’an dan kemudian selesai. Bagi mereka memperlombakan esensi Al-Qur’an dalam akhlak dan prestasi amaliah yang nyata, justru merupakan aplikasi dari seruan fastabiqul-khairat tersebut. Mereka tidak pernah mempunyai motivasi untuk mendapatkan piala atau pujian manusia hanya karena membaca Al-Qur’an, tetapi dorongan yang paling menggebu di hati para anggota jamaah Rasul ini adalah kerinduannya untuk menyiarkan dan mengamalkan Al-Qur’an dalam bentuk yang membumi, nyata, dan ternikmati oleh manusia. Kalupun dia takzim, itu semua dikarenakan dorongan untuk memenuhi perintah agama. Karena hal tersebut merupakan salah satu perintah Rasulullah dalam metode dan pendekatan kita terhadap Kitab Suci.

Itulah sebabnya, salah satu program keluarga anggota jamaah, adalah menanamkan kecintaan putra-putrinya untuk menggemarkan membaca Al-Qur’an, menghafalkan surat-suratnya, dan secara tertib mulai menggali, menghayati, dan mengikat keluarganya dengan semangat Qur’ani. Sehingga tidak jarang di kalangan keluarga tersebut, ada putra-putrinya walaupun umurnya masih sangat muda, mampu menghafal puluhan surat, bahkan hafal Al-Qur’an.

Sayang sekali, dewasa ini pendidikan keluarga sudah sangat berorientasi ke dunia Barat dan tercabut dari akar fitrah diri seorang muslim. Dunia pendidikan keluarga dan sekolah menjadi gamang serta asing dengan ajaran agamanya sendiri, karena ada semacam “rekayasa kurikulum” yang justru menjebak para murid untuk menjadi manusia yang tumpul terhadap agama, otaknya encer, tetapi hatinya kering. Hardwarenya bertambah canggih, tetapi sayang software-nya terkena “virus” budaya Barat yang justru tidak pernah berangkat atau diniatkan sedikit pun untuk menjayakan siar Islam.

Sebab itu, janganlah terlalu kaget apabila ada sebuah keluarga muslim yang ternyata seluruh keluarganya tidak mampu membaca Al-Qur’an. Jangan pula heran apabila di rumah, ternyata pada rak bukunya tidak terdapat Kitab Suci Al-Qur’an. Bagi mereka bergengsi apabila rak buku yang dipajang di ruang tamu itu, penuh sesak dengan sederetan buku-buku tebal, dan mulai Encyclopedia Britanica, Americana, sampai National Geogyaphic. Jangan terlalu mengharapkan untuk melihat dinding kamar putra-putri muslim, terpampang kaligrafi atau tulisan-tulisan tentang hadits atau nasihat, karena kamar seorang putra yang modern harus dihiasi dengan segudang penyanyi musik rock, pop, dan rap. Adakah masih tersisa secercah kebanggaan untuk menjadi seorang manusia Qur’ani?

Ada sebuah adat istiadat yang mulai pudar di kalangan kaum muslimin dewasa ini, yaitu menguji calon mantu dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’annya, sehingga bapak mertua merasa bangga mempunyai calon menantu yang takzam, akrab, dan membaca Al-Qur’an dengan tartil sebagai jembatan menuju amaliah Qur’ani. Jangan-jangan apa yang digambarkan oleh Rasul bahwa kelak akan datang satu zaman di mana Al-Qur’an hanya tinggal bacaannya saja, walaupun pelan tapi pasti, sebenarnya sudah mulai datang dan menyelinap dalam kehidupan kita yang mengaku diri sebagai muslim.

Cobalah simak sesekali mengenai upacara-upacara keagamaan yang ternyata tidak jarang di dalamnya dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Akan tetapi sayangnya, para hadirinnya tidak pernah merasakan kesejukan dan terpesona dengan bacaan ayat suci tersebut, padahal salah satu tanda orang yang beriman apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, maka mereka tersengkur, terharu, dan meleleh air matanya, karena jiwanya diingatkan kepada Dia yang Maha Pencipta. Hal itu sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (al-Anfal: 2).

Mungkinkah Al-Qur’an hanya tinggal menjadi benda pusaka antik yang hanya pantas digelar sebagai maskawin (mahar) untuk pleengkap upacara ijab kabul pernikahan. Rumah dan masjid telah menjadi sepi dari gaung sahdu bacaan Al-Qur’an. Padahal, Rasulullah sering rindu untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang dibaca dengan suara yang merdu.

Bahkan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah r.a. Rasulullah saw meminta Abdullah bin Mas’ud untuk membaca Al-Qur’an untuk beliau. Rasulullah saw. bersabda, “Bacakanlah untukku!” Aku (Abdullah bin Mas’ud) bertanya, “Aku bacakan kepadamu, padahal ia diturunkan kepadamu?” Beliau bersabda, “Aku ingin sekali mendengarkannya dari orang lain.” Kemudian Aku membacakannya surat an-Nisa’
ketika sampai pada ayat 41 yaitu, “Maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” Beliau bersabda, “Cukuplah dahulu.” Aku melihat kedua air mata beliau berlinang. (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

C. Perdamaian (Ishlah) Wujud Reformasi Islami: Iman, Hijrah, dan Jihad
Bila kita mau konsekuen sampai ke lubuk hati dan menimba seluruh sunnah dan wasilah Al-Qur’an, niscaya kita akan lebih mengenal dan mempopulerkan kata ishlah, disamping kata reformasi. Dengan mempopulerkan kata ishlah di kalangan kita, diharapkan dapat lebih menumbuhkan gairah Islamiyah kita. Sebagaimana kita ketahui, kata “reformasi” mengingatkan kita terhadap budaya.serta cara metode gerakan dunia Barat yang diawali dengan kemelut di lingkungan Gereja Roma Katolik yang kemudian direformasi oleh Martin Luther dan Calvin. Sehingga, ada semacam nuansa Kristiani dalam kata reformasi tersebut. Tentu saja, kita tidak tabu dan mengharamkan kata reformasi, karena esensi dan maknanya yang mendalam telah kita tangkap dan bagian dari misi seorang muslim untuk selalu melakukan perbaikan. Akan tetapi tidakkah kita rasakan, betapa besarnya makna sebuah kata sebagai bentuk identitas umat Islam. Tidakkah kita rasakan bahwa dalam mempopulerkan sebuah “kata”, umat Islam tidak berdaya mengunggulinya. Padahal, bagi kita sudah sangat jelas bahwa semangat reformasi merupakan bagian dari misi Islam itu sendiri yang selalu melakukan perbaikan dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, Islam membawa misi reformasi, sebaliknya reformasi belum tentu membawa misi Islam.

Alangkah indahnya apabila kita memakai kata ishlah (perdamaian), sebuah kata yang melekat pada amal setiap muslim yang memberikan segala usaha untuk memperbaiki sesuatu, serta menjauhi segala bentuk kerusakan. Di dalam kata ishlah tersebut terkandung pula kata shalah (perbaikan) yang mempunyai esensi makna segala ikhtiar atau pilihan yang harus sesuai dengan kehendak Alah dan Rasul-Nya dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya. Kata ishlah sebagai usaha untuk melakukan usaha perbaikan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, merupakan lawan kata dari fasad (kerusakan).

Dengan memperkenalkan kata ishlah –dalam lingkup arti memper baiki kerusakan–dalam gerakan melawan kaum zionis Dajal ini, maka terkandung di dalamnya nuansa religius, etika, moral, dan tanggung jawab agar segala tindakan kita selalu sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya; memperbaiki yang rusak dan menyempurnakan yang bermanfaat.

Mengapa hal ini harus kita ke tengahkan? Tidak lain dalam rangka membersihkan hati dan pikiran, pada saat kita berupaya melakukan perbaikan. Sehingga tetap kita tetap pada metode (manhaj) Nabi dan jalan lurus-Nya (sirathal-mustaqim). Kekhawatiran ini tidaklah berlebihan apabila kita cermati konspirasi global kaum zionis, termasuk IMF yang selalu membawa kata “reformasi” sebagai persyaratan agar dana pinjaman dikucurkannya. Lalu, apa yang direformasi? Apakah di balik ini ada semacam pesan terselubung untuk menyingkirkan umat Islam dari panggung kehidupan masyarakat? Bukankah salah satu moto mereka “era reformasi baru” (new age reforms) sebuah misi untuk merombak dunia secara total, yang belum tentu membawa pesan-pesan Islami.

Memang benar, umat Islam tidak perlu terpaku dengan istilah tersebut. Karena dunia sudah menjadi global. Lagi pula bagi kaum intelektual dapat saja menjawab, “Apalah arti sebuah nama?” Padahal, bagi kaum muslim, nama merupakan sebuah identitas yang merupakan bagian dari Sunnah. Sehingga sejak dini, Rasulullah sangat menganjurkan agar kita memberikan nama-nama yang indah untuk putra-putri kita. Hal itu agar mereka lebih mendekatkan dirinya kepada Allah. Itulah sebabnya, kita bisa menjawab kaum intelektual itu dengan jawaban, “Ada berbagai makna yang baik pada sebuah nama, teman!”

Nama dan istilah bukan saja memberikan identitas dan makna, tetapi juga merupakan ukuran dan jiwa (muru’ah) dakwah. Ketika Islam terpinggirkan, berapa banyak kata dan istilah yang memakai bahasa sansekerta; bahasa fosil yang tidak memberikan getaran identitas. Padahal, ketika darah para syuhada yang merebut kemerdekaan dari kaum kufur, deretan nuansa Islam menghiasi kehidupan bernegara. Setidaknya, ada tujuh kata yang masuk dalam ideologi negara seperti: adil, adab, rakyat, hikmah, musyawarah, wakil, dan daulat.

Dengan demikian, seharusnya kita merasakan dengan penuh kenikmatan bahwa tiga kata ishlah, hijrah, dan jihad adalah mutiara yang paling indah, karena di dalamnya berisi begitu banyak hikmah serta roh perjuangan yang mampu mengantarkan manusia kepada kemuliaan dan kemenangan. Tiga kata yang tidak bisa terpisahkan, karena di dalam makna ishlah, ada semacam gerakan untuk selalu berbuat perbaikan, yang akan melahirkan “hijrah” dari yang batil menuju yang hak, dari yang gelap menuju yang terang dengan cara berjihad, yaitu mengerahkan seluruh potensi dan sumber daya untuk mewujudkan ishlah tersebut. Bahkan, hijrah kita tidaklah sekadar perubahan fisik, tetapi juga transformasi mental. Bahkan, kalau kita mau sedikit jeli menghayati makna hijrah, ternyata sejak Al-Qur’an diturunkan, sudah terdapat padanan kata hijrah pada surat al-Mudatstsir ayat 5, “Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah (war-rujza fahjur).”

Maka, salah satu ciri orang beriman adalah mereka yang melakukan hijrah mental, sebagaimana berulang-kali Al-Qur’an mengetuk kalbu kesadaran kaum beriman tentang makna dan keluhuran upaya untuk berhijrah ini. Hal ini sebagaimana firman-Nya:

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (at Taubah: 20).

Tiga kata yang dirangkai secara berututan pada surat at-Taubah:20 tersebut, yaitu iman, hijrah, dan jihad; tentunya mempunyai makna yang sangat mendalam. Tidak mungkin salah satu dari tiga rangkaian kata itu hilang, demikian pula tidak mungkin yang satu mendahului yang lain, karena semuanya sudah diatur dan disusun oleh Sang Maha Pencipta.

Orang tidak mungkin memperoleh nilai hijrah apabila upayanya itu tidak didasarkan pada iman. Demikian pula, orang yang mengaku berjihad, ia tidak akan mendapatkan nilai di sisi Allah, selama perjuangannya tidak didasarkan pada iman. Dan tidak mungkinlah orang disebut beriman, apabila keyakinannya tersebut tidak didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Hijrah berarti membuat garis tegas antara yang hak dan batil, membuat batas pemisah ( furqan) antara mukmin dan kafir. Bagaikan racun dan madu, tidak mungkin dua-duanya tercampur dalam satu gelas jamaah.

Maka dengan iman dan sikap yang istiqamah, jamaah mukmin berani mengambil risiko, meninggalkan segala kenikmatan, gelar, dan sanjungan masyarakat jahiliah untuk menerima penderitaan dalam menapaki jalan yang penuh dengan ironi. Akan tetapi, karena yakin akan pertolongan kepada Allah dan semangat yang istiqamah tersebut, menyebabkan dalam jiwa mereka tidak pernah mengenal kata menyerah, apalagi bersekutu dengan kejahiliahan. Sesungguhnya, mereka yang telah berkata bahwa Allah adalah Tuhan kami, kemudian mereka beristiqamah, tidak ada rasa khawatir pada jiwa mereka, juga tidak merasa gentar. Mereka adalah calon penghuni surga yang kekal sebagai balasan atas jerih payahnya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an pada surat al-Hujurat ayat 14-15.

Kualitas imanlah yang telah menjadikan mereka tidak lagi mempedulikan untung-rugi duniawi, apabila panggilan Allah menyeru nuraninya. Karena bagi mereka kebahagiaan yang hakiki itu adalah tercapainya jiwa yang bersih sebagai jaminan sukses di akhirat. Semangat seperti ini menjadikan generasi pelopor awal (assabiquunal awalun) menjadi umat yang unik yaitu yang tidak ada bandingannya sampai kapan pun. Lebih baik terisolasi, terkapar dalam derita daripada menggadaikan keyakinan. Apalah artinya kemuliaan dunia apabila akan disambut dengan penderitaan akhirat, sebagaimana firman Allah SWT:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri’….” (Saba’: 46)

Iman, hijrah, dan jihad merupakan tiga kata yang harus menghunjam dan mengakar di lubuk hati setiap mukmin, karena hanya dengan tiga karakter inilah pertolongan Allah akan datang mengangkat dan memuliakan setiap orang yang telah mengikrarkan syahadatnya dengan konsekuen. Tipu daya orang kafir yang dikemas dengan sangat cantik, apakah dalam bentuk kemajuan teknologi, kehidupan mewah yang konsumtif budaya bebas tanpa moral, semuanya tidak akan menggoyahkan muslim yang memiliki “tiga bintang” ciri orang mukmin tersebut. Allah telah berfirman:

“Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan .pertolongan para mukmin.” (al-Anfal: 62)

Apabila kualitas iman berbinar penuh cahaya langit, setiap anggota jamaah mukmin tidak pernah merasa khawatir menghadapi isolasi atau tipuan apa pun. Ayat itu menegaskan kembali bahwa yang akan menolong mereka hanyalah Allah dan sesama mukmin, sedangkan mereka yang nonmuslim tidak pernah akan peduli dengan ciri dan cara hidup demikian. Hijrah pada zaman sesudah Rasul, seperti zaman sekarang ini, tidak lain adalah melakukan suatu “renovasi diri” untuk memisahkan dan hanya berpihak kepada Allah dan jamaah orang-orang mukmin.

Dalam menghadapi konspirasi Dajal zionis yang semakin mengglobal ini, sudah merupakan aksioma bahwa Allah tidak pernah akan memberikan pertolongan kepada umat Islam, selama umat tidak berjihad, yaitu bersungguh-sungguh untuk meningkatkan diri sebagai seorang mukmin. Dan Allah tidak akan mengazab musuh-musuh Islam, selama ada sebagian umat Islam berada di tengah-tengah cara budaya kaum Dajal yang saling mendukung dengan orang-orang kafir secara campur baur. Hal ini dengan sangat tegas dinyatakan Allah dalam firmanNya:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka (kaum kafir), sedangkan kamu masih ada diantara mereka….” (al-Anfal: 33).

Tak ayal lagi, apabila kita ingin menjadi subjek dan memiliki harga diri, melepaskan segala jerat budaya Dajal, maka setiap mukmin harus berhimpun dalam suatu jamaah-sebagaimana metode atau Sunnah Rasul yang dimulai dari rumah salah seorang sahabat beliau yang kemudian dikenal sebagai Darul Arqam. Karena hanya orang mukmin yang berjamaah yang mampu memiliki kentalnya iman, berpadunya cita, dan kokohnya persaudaraan.

Berhimpunnya kaum mukmin akan membuahkan suatu kekuatan iman yang mahadahsyat. Sebaliknya, apabila kaum mukmin tercerai-berai atau terkotak-kotak, niscaya tanpa kita sadari kekuatan yang ditawarkan Allah telah dibuang dengan sangat mubazir. Bukankah Rasul bersabda bahwa hanya kambing yang keluar dari kelompoknya-lah yang akan diterkam srigala? Maka setiap pribadi muslim yang akan melakukan hijrah menuju ke pemukiman kaum mukminin itu, haruslah mulai dari sekarang. Oleh karena itu, pandai-pandai memilih teman yang senasib sepenanggungan, dan janganlah memilih teman lain kecuali Allah, Rasulullah, dan orang mukmin, sebagaimana termaktub pada surat at-Taubah ayat 16.

Kemampuan dan kesungguhan setiap muslim yang dinyatakan dalam kerja keras serta menyerahkan diri kepada-Nya agar dapat terpisah dari kebatilan menuju ke hak. Itulah yang disebut dengan jihad. Orang yang memiliki semangat jihad akan lebih waspada meniti buih kehidupan, dirinya sangat berkeinginan untuk selalu menjaga diri dengan penuh ketabahan. Itulah sebabnya, ketika seorang mujahid tidak terlalu banyak bersenda-gurau atau tertawa terbahak bahak, karena hal seperti ini bisa melambangkan kelalaian dan gampang terperangkap pada nafsu duniawi. Mukmin itu sesungguhnya lebih banyak menangis daripada ketimbang tertawa, sebagaimana termaktub pada surat al Anfal ayat 22.

Menangis merupakan lambang keprihatinan, sebagai salah satu ciri orang mukmin yang jiwanya sangat sensitif melihat penderitaan dan kesesatan manusia. Sehingga di sela-sela wiridnya selalu tersisipkan doa memohon pertolongan Allah bagi para mukmin yang dhaif (lemah) agar mereka diangkat dan dicerahkan jiwanya menjadi satu umat yang kompak dan kuat (ummatan wahidah).

Para anggota jamaah sadar bahwa dengan mendekatkan diri kepada Allah (taqarub), bertakwa, dan terus berikhtiar kepada-Nya, maka pertolongan dari Allah pasti datang yang berupa furqan, yaitu kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan batil, antara tauhid dan syirik, antara Al-Qur’an dan thagut seperti termaktub pada surat al-Anfal ayat 29. Hijrah dan jihad melahirkan rasa aman yang tidak terhingga dalam batin mereka, dan keikhlasan serta keridhaan yang tiada tara untuk menerima Allah sebagai cahaya benderang dari puncak harapan. Hidupnya memang hanyalah mencari keridhaan Allah semata, sebagaimana termaktub dalam surat at-Taubah ayat 100 dan al-Fath ayat 29.

Dengan hijrah dan jihad, seakan-akan dirinya telah tergadai hanya kepada hukum dan peraturan Allah. Mereka para anggota jamaah itu sangat merindukan perjumpaan abadi dengan Sang Kekasihnya dan mengharapkan agar Allah membeli dirinya dengan surga dan pengampunan-Nya, seperti termaktub pada surat at-Taubah: 111. Dengan kata lain, seruan yang kita dengar dari sang muadzin yang menyeru, “Marilah meraih kemenangan,” (hayya alal-falah), hanyalah akan menjadi seruan kosong, apabila kita tidak menyambutnya dengan hijrah dan jihad yang disulut oleh tali iman sebagai lambang kecintaan yang mendalam kepada Allah.

Orang mukmin yang telah berhijrah dan berpihak kepada Allah, apabila waktu shalat telah tiba, maka ia akan segera meninggalkan kesibukan dunia dan meraih sajadahnya untuk menyembah-Nya, karena Dia Sang Maha-segalanya telah menanti. Bahkan, dalam hadits disebutkan bahwa hal itu tidak sekadar hijrah, apabila sang mukmin secara konsekuen mampu menjadikan perilakunya ini sebagai suatu kebiasaan, maka shalat itu menjadi “mikraj”-nya orang mukmin. Orang mukmin yang telah berhijrah segera berpihak kepada Allah, ketika bisikan setan menggebu menggoda nafsu untuk memalingkan perhatiannya dari dzikrullah, maka seorang pemuda yang gagah adalah seorang yang mampu berhijrah dan berjihad; ketika dia mampu menolak rayuan seorang wanita, bagaimanapun cantiknya wanita itu, karena ia takut kepada Allah. Adalah sebagai hijrah, apabila kita mengubah mentalitas memikirkan diri sendiri (ananiyah) dengan mencintai jamaah, mengubah sikap cinta pada golongan, ras, atau keturunan menjadi kecintaan pada jama’ah, yaitu persaudaraan kaum mukmin.

D. Semangat Persaudaraan
Ketika gerakan dabbah Dajal yang muncul dari bawah bumi mengibarkan panji-panji fitnah di seluruh dunia Islam, seharusnya kita segera merapatkan diri dan melawannya dengan panji-panji persaudaraan yang nyata. Mereka akan segera melangkahkan derap “sepatu laars”-nya atas nama “polisi internasional” (Amerika) untuk memporak-porandakan umat beragama dengan cara mengadu-domba satu dengan lainnya. Mereka menjadi provokator yang paiing profesional agar umat Islam dan umat beragama lain bertarung, sehingga lelah dan tidak lagi mempunyai suatu kekutaan untuk menghadapi tipu daya kaum Dajal zionis tersebut.

Betapa mungkin kita akan memenangkan sebuah pertempuran, bila diantara kita sendiri saling memfitnah, bahkan yang paling gigih memfitnah sesama seiman dan seagama. Alangkah pedihnya jiwa, seandainya ada seorang pemimpin dengan penuh semangat menuduh sesama saudaranya. Pemimpin yang menuduh sesamanya yang nyata-nyata telah bersyahadat; yang telah pula menunjukkan kecenderungannya kepada kebenaran (al-hanif), dan telah menunjukkan amal-amalnya untuk Islam, difitnah dan dihujat sebagai orang yang seagama, tetapi tidak seiman. Bila memang ada peristiwa seperti itu, maka “bahasa” orang yang mengaku pemimpin itu tidak lain adalah “bahasa kaum zionis” yang memutar-mutarkan lidahnya bagaikan para Ahli Kitab yang menyisipkan kalimat kebohongan dan diakuinya datang dari Allah.

Pemimpin itu pun dengan tidak merasa berdosa sedikit pun menepuk dada sambil merangkul kaum kafir dan menginjak martabat sesama saudaranya seagama. Akhlak karimahnya telah tercerabut dari jiwa dan mereka menggantinya dengan akhlak dabbah. Mereka merasa sangat bahagia bila dapat menertawakan penderitaan orang tertindas yang merintihkan doa, seraya bercucuran air mata. Di manakah lagi kata maaf? Di manakah keluhuran budi umat yang telah dicontohkan Rasulullah saw. ketika memperlakuan musuh-musuhnya pada saat penaklukan Mekah?

Padahal, tidak ada yang paling indah dalam kehidupan manusia kecuali mempunyai sahabat seagama dan seiman. Betapa kentalnya nilai persaudaraan yang disambung oleh tali iman telah dibuktikan oleh para anggota jamaah Rasulullah, yang sekaligus sebagai bingkai kaca untuk bercermin dan menata kehidupan masyarakat Islam yang Qur’ani. Persaudaraan iman inilah yang menyatukan rasa, karsa, dan cinta dalam jamaah, yang mampu membongkar segala kebanggaan golongan (ta’asub), keturunan, ras, dan kebanggaan kelompok lainnya.

Akan tetapi, cobalah raba hati dan keadaan kita sekarang ini, betapa umat Islam yang terkena penyakit “mencintai dunia dan takut akhirat” (wahan), tercabik-cabik menjadi santapan orang-orang kafir dikarenakan hilangnya nilai persaudaraan diantara sesama muslim sendiri. Bila ukhuwah Islamiyah telah redup cahayanya, apakah mungkin menyambung tali ukhuwah bashariyah dan wathaniyah. Pelita hikmah tentang seruan Allah, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara….” (al-Hujurat:10) telah lenyap ditelan gemuruhnya pidato dengan gaya retorika yang hanya sebatas mencari pendukung golongannya, padahal janji-janji yang dikemas dengan bahasa retorika itu hanyalah manis dalam pernyataan, tetapi pahit dalam kenyataan. Jelaga hitam di hati kita, bertambah tebal dengan masuknya paham dan budaya kaum Dajal yang secara halus menyelusup bagaikan virus yang merusak cara berpikir umat, sehingga seluruh sikap dan keputusannya sudah sangat jauh dengan Al-Qur’an.

Prinsip demokrasi yang diagungkan dunia Barat, ternyata diterima di kalangan umat Islam dengan sangat mentah, sehingga telah menyebabkan tumbuhnya berbagai kepentingan (vested interest) berbagai pengkotakan, perbedaan paham, dan perbedaan cita yang dikonfrontasikan secara tajam, bagaikan lawan dengan rnusuh dalam arti yang sebenarnya. Organisasi atau partai yang semula secara ideal dianggap sebagai alat untuk menampung aspirasi program dan rencana pembangunan umat, justru menjadi “alat pembunuh” persaudaraan. Hanya karena berbeda partai atau organisasi, kadang-kadang kita menjadi berpikir hitam-putih (black and white). Sikap kebersamaan telah lenyap digasak kebanggaan kelompok dan yang mencuat secara dominan adalah sikap keegoisannya (keindividuannya) . Bahkan, bisa jadi kelihatannya mereka bersatu, padahal hatinya tidak pernah jumpa dan tidak ada kecocokan ide; kelihatannya berjamaah, padahal hatinya telah lama berpisah.

Kejayaan umat akan tampil kembali di panggung dunia, apabila kita mau melebur diri dalam satu jamaah yang di dalamnya berkumpul kaum mukmin yang maju menundukkan dunia secara bersaf, dan berkepribadian luhur sesuai dengan Al-Qur an, yaitu barisan yang tangguh bagaikan benteng yang kokoh. Masing-masing muslim, saat ini, telah sama-sama bekerja untuk berbagai keperluan terrmasuk sama-sama bekerja dalam siar dakwah. Akan tetapi disayangkan; hal itu belum mewujudkan suatu saling kerja sama yang total. Padahal, inti menuju bekerja sama, hanyalah dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber berpijak dan tindakan, serta Sunnah Rasul sebagai rujukan sikap hidup kita. Semangat merujuk dan melaksanakan dua sumber hukum utama Islam tersebut tidak boleh pudar, betapa pun hebatnya otak kita. Karena apalah artinya isi otak kita yang hanya beberapa sentimeter kubik, dibandingkan dengan kebesaran alam semesta hasil ciptaan Sang Mahaperkasa itu.

Kebersamaan sebagai salah satu buah persaudaraan itu mutlak berada di lubuk hati masing-masing. Setiap anggota jamaah merasa larut dan merasa satu wujud, karena nilai iman telah melebur dan sekaligus meruntuhkan segala perbedaan artifisial (palsu). Mereka yang mendambakan bunga dan buah persaudaraan, serta mau duduk sebagai anggota jamaah, maka tidak ada satu pun sekat atau tabir yang akan menyebabkan tumbuhnya prasangka serta sikap egois (ananiyah). Hati dan sikap mereka satu dan transparan, sehingga tidak ada satu kebenaran pun yang dia sembunyikan di hadapan saudaranya.

Sikap seperti ini menyebabkan para anggota jamaah merasa aman dan damai. Ibarat ikan dalam air, mereka tidak mau lagi keluar dari kolam jamaah. Cinta kasih, kelembutan, sopan santun, serta rasa tanggung jawab diantara sesama anggota muslim, merupakan ciri khas yang paling menonjol dalam pribadi para anggota jamaah. Demikian pula, dalam cara pernyataan keyakinan yang mencakup iman, syariat, dan prinsip-prinsip beragama dan berkehidupan, dinyatakannya dengan sangat banyak sekali. Keterangan maupun berbagai nash Islam ternyata memberikan satu pesan agar dalam menegakkan siar Islam, selalu menyeru kepada satu sikap iktidal (dipertengahan). Hal itu karena akan melarang sikap-sikap yang membuat rumit perilaku serta penalaran alami, seperti: berlebih-lebihan (ghuluw), merasa diri paling pintar (tanatthu), dan mempersulit atau membuat bertambah berat (tasydid).

Sebenarnya, banyak sekali ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi yang menyatakan agar dalam beragama, kita berada di pertengahan. Hal itu banyak disampaikan oleh Rasulullah, misalnya hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dengan Musnad-nya, an-Nasa’i dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya, dan al-Hakim dalam Mustadrak-nya. Dari Abdullah bin Abbas r a. bahwa Nabi saw bersabda:

“Hindarkanlah daripadamu sikap melampaui batas dalam agama (ghuluw), karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya.”

Tentang peringatan agar suatu kaum, bahkan Ahli Kitab sekalipun untuk bersikap tidak melampaui batas dalam agama, telah dinyatakan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Oleh dua sumber utama umat tersebut telah diberikan contoh beribadah yang ringan. Misalnya saja, dalam pelaksanaan rukun haji, yaitu dalam hal memilih batu untuk melempar (jumrah), hendaknya mengambil batu sebesar biji kacang, dan diperintahkannya agar tidak melampaui batas (kualitas lemparannya).

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, dari Abdullah bin Mas’ud. Ia berkata bahwa Rasullullah saw. bersabda “Binasalah kaum Mutanatthi’un” dan beliau mengulanginya tiga kali. Imam Nawawi berkata, “Al-Mutanatthi’un ialah orang-orang yang merasa dirinya benar dan merasa paling pintar, serta merasa paling menguasai ketika membahas sebuah perkara. Ucapan mereka penuh bara angkara yang membakar, sehingga kadang-kadang keluar dari sifatnya seorang panutan yang seharusnya tetap berpegang pada tata nilai qaulan ma’rufan (kata-kata yang indah menyejukkan). Nabi pernah menegur Mu’adz dengan keras karena Mu’adz memanjangkan bacaannya ketika shalat berjamaah, sehingga banyak orang yang mengadu kepada Nabi. Kemudian Nabi bersabda, “Apakah engkau ingin menimbulkan fitnah, hai Mu’adz?” Beliau mengulanginya tiga kali. Dalam peristiwa yang sama beliau bersabda pula:

“Sesungguhnya diantara kalian ada orang-orang yang menimbulkan antipati. Barangsiapa mengimami shalat bersama orang banyak (jamaah), maka ringankanlah (bacaannya) karena di belakangnya ada orang tua, orang lemah, dan orang yang mempunyai keperluan.” (HR Bukhari).

Bila kita membuat analogi antara seorang imam shalat dan imam pada sebuah masyarakat, tentunya prinsip-prinsip imamah itu harus melekat pada para pemimpin Islam. Dia rasakan denyutan kepedihan umat. Dia ringankan beban hidupnya. Dia sejukkan pula kegelisahan jiwanya, dan dia berikan pelita keteduhan kepada mereka yang berjalan menatap hari esok dengan ketidakpastian.

Ketika Nabi akan melepas Mu’adz dan Abu Musa ke Yaman, beliau bersabda, “Permudahlah olehmu berdua dan jangan mempersulit. Gembirakanlah dan jangan menyusahkan. Bersepakatlah dan jangan berselisih. ” (HR Bukhari dan Muslim)

Demikian pula dengan firman Allah, “…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….” (al-Baqarah: 185).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya agama ini adalah kemudahan. Dan tidaklah seseorang mempersulit agama, melainkan ia pasti akan dikalahkan. Maka dari itu bersahajalah, dekatlah, dan gembiralah.” (HR Bukhari dan Nasa’i).

Maka dalam tatanan pergaulan dengan siapa pun, hendaknya selalu menampakkan wajah dakwah. Sebuah refleksi tata etika kesopanan Islami yang sangat tinggi nilai luhurnya. Menyejukkan dan senantiasa memberikan kesan yang mendalam bagi pihak lain karena keteladanan akhlaknya.

E. Tiang Persaudaraan
Sebagaimana telah ditetapkan oleh para anggota Ikhwanul Muslimin yang dipelopori oleh Hasan al-Banna –semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya– prinsip persaudaraan itu dilandaskan pada empat tiang yang harus dibina secara kokoh, yaitu ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling menolong), dan takaaful (saling bertanggung jawab). Itulah empat tiang yang ditegakkan di atas landasan akidah kuat yang merupakan ciri khas dari mereka, yaitu para anggota jamaah di mana pun mereka berada, seperti yang dicontohkan oleh gerakan ikhwan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s