Renungan Islam | Jamaah dan Essensi Persatuan Umat (1)


“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercera-berai…” (Ali Imran:103).

Menghadapi tantangan zaman yang semakin mengglobal serta jaringan Dajal yang telah merasuki seluruh denyut kehidupan manusia, seharusnya ada semacam tekad yang sungguh-sungguh diantara kita. Yaitu, tekad bahwa gerakan kaum kafir tidak mungkin dihadapi secara individu, kecuali dalam satu tatanan persatuan umat (ittihadul-ummah) yang hanya berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kekuatan, kekompakan, kecerdasan, serta ambisi kaum Dajal matrialistis tersebut bukan sebuah ilusi, tetapi benar-benar nyata. Bukan hanya dapat dibuktikan secara faktual, tetapi diperingatkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Sehingga, tidak ada satu cara pun untuk menghadapi mereka kecuali membangun akidah dan pemahaman agama secara komprehensif bagi generasi muda agar mereka mampu menghadapi tantangan global dan memenangkannya, sebagaimana termaktub dalam surat at-Taubah:33, al-Fath:28, dan ash-Shaff:9.

Sebagaimana diketahui, agama-agama formal di dunia Barat telah kehilangan nilainya sebagai pegangan hidup. Hal ini dimanfaatkan olehnya dengan membuat agama-agama palsu dengan memperkenalkan berbagai aliran-aliran okultisme mistik yang direkayasa dan dipromosikan melalui berbagai media sebagai agama baru yang bersifat menipu dan hanyalah sebuah angan-angan belaka (deceptive).

Pengaruh aliran filsafat neo-Platonisme (paham Plato, ed.) yang banyak mempengaruhi agama Kristen telah memperkuat kecenderungan dunia Barat untuk melahirkan berbagai aliran mistik okultis yang dikemas dan dipropagandakan dengan bahasa rasional dan penuh dengan janji-janji. Sehingga, kemudian orang-orang yang dalam keadaan depresi sangat mudah terpengaruh untuk menerimanya. Di satu pihak, falsafah aliran Aristoteles yang banyak mempengaruhi agama Yahudi lebih menekankan pada pendekatan yang menonjolkan rasio telah menafsirkan berbagai ayat Bibel (Alkitab) dengan semangat Judaisme zionistik, di mana ada semacam misi imperialistik untuk menguasai dunia dalam bentuk yang lebih rasional. Sebagaimana diketahui, agama Yahudi bukanlah agama misionaris sehingga semangat ekspansi zionisnya bukan atas dasar berapa banyak orang harus beragama Yahudi, tetapi berapa banyak orang dikuasai oleh paham-paham rasionalitasnya, sebagaimana telah dibahas sebelumnya, yaitu melalui penguasaan teknologi, moneter, dan konspirasi global. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan daabatam minal ardhi (binatang melata dari dalam bumi), yaitu sosok bangsa yang selama ini berada di bawah tanah, yang melakukan gerakan rahasia. Dan pada milenium ketiga ini, sosok tersebut akan menampakkan wujudnya secara terang-terangan untuk menguasai dunia serta menyingkirkan umat beragama, terutarna umat Islam.

Kunci untuk membendungnya tidak lain adalah memperkokoh seluruh tatanan sistem dan derap kehidupan, sesuai dengan Sunnah Rasul, sebagaimana firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (al-Anfal: 45).

Oleh sebab itu, kalau memang iman sudah bersemayam di dalam hati dan penuh dengan kerinduan akan persatuan dan kekuatan umat, kiranya ada baiknya kita mentafakuri makna dari shalat berjamaah, yaitu shalat wajib yang dilaksanakan lebih dari satu orang, yang nilai pahalanya lebih dibandingkan dengan shalat sendirian atau munfarid. Beberapa isi kandungan etika yang dikaitkan dengan nilai dan prinsip shalat berjamaah, diantaranya sebagai berikut:

1. Apabila iqamat sudah dilaksanakan maka diwajibkan untuk segera menetapkan, menunjuk, dan memilih siapa yang akan menjadi imam dalam shalat berjamaah, juga kewajiban untuk meluruskan shaf (baris).

2. Dilarang untuk mendahului imam, baik dalam gerakan maupun bacaan.

3. Dilarang mengeraskan suara bacaan melebihi ucapan atau suara imam.

4. Kewajiban untuk melakukan gerakan yang kompak diantara sesama makmum, setelah terlebih dahulu mendapatkan isyarat sempurna dari imam.

5. Dilarang membuat jamaah baru, apabila jamaah yang awal belum selesai (menutup salam), bahkan kepada makmum yang tertinggal (masbuk) diharuskan untuk segera bergabung dengan jamaah.

6. Diwajibkan mengikuti seluruh gerakan imam tanpa “mencadangi-nya”, kecuali apabila imam berbuat salah baik dalam ucapan maupun gerakannya, maka kewajiban makmum untuk menegurnya dengan mengucapkan, “Subhanallah.”

Alangkah indahnya tujuh prinsip yang terkandung dalam tatanan shalat berjamaah. Di dalamnya tersirat suatu pesan yang teramat dalam untuk dijadikan bahan renungan bagi setiap pribadi muslim yang sedang berjuang untuk meraih keindahan dan kelezatan iman. Sehingga pantaslah ia untuk disebut sebagai seorang mukmin. Prinsip iqamat menunjukkan suatu simbolisasi bahwa mereka yang telah berkumpul untuk niat (shalat berjamaah) yang sama, harus segera mengumandangkan iqamat. Dengan panggilan iqamat tersebut, terputuslah segala urusan dengan dunia luar, tidak ada lagi yang melakukan pekerjaan lain, kecuali dengan penuh tanggung jawab memenuhi seruan iqamat untuk segera melaksanakan shalat berjamaah.

Iqamat adalah lambang yang menyerukan persiapan untuk menuju pada satu arah kiblat yang sama, yaitu Ka’bah Baitullah. Ruku yang sama, iktidal yang sama, bahkan ucapan serta niat yang sama. Dengan niat yang sama ini, mereka segera menunjuk imam shalat. Seakan-akan, hal itu merupakan suatu simbol agar kaum mukmin segera menunjuk siapa pemimpinnya, yang secara akrab, transparan dapat menuntun hidup dan kehidupannya yang maslahat dalam tatanan suara takbir yang indah. Di
dalam hubungan makmum dan imam ini, terlihat pula “prinsip demokrasi” yang dilambangkan melalui suatu norma bahwa apabila imam berbuat salah, baik dalam ruku maupun bacaannya, maka makmum dapat mengoreksinya dengan mengucapkan subhanallah atau meluruskan bacaannya yang benar. Demikian pula, apabila secara nyata imam telah batal maka irnam tersebut harus secara konsekuen segera mundur (untuk memperbaiki wudhunya) dan segera diganti oleh makmum di belakangnya untuk meneruskan shalat berjamaah.

Kewajiban untuk meluruskan shaf adalah suatu prinsip yang menunjukkan satu simbol manajemen serta pengelolaan jamaah yang berpadu dan bagaikan benteng yang kokoh-seperti yang disebutkan dalam surat ash-Shaff: 4 –bahu bersentuhan dengan bahu yang lain, barisannya lurus, sehingga tidak satu pun ada ruang yang kosong yang memberi peluang kepada setan untuk merusak dan menggoda kekhusyu’an shalat berjamaah.

Rasulullah saw bersabda, “Imam itu untuk diikuti”, sehingga kita pun mahfum bahwa yang dimaksudkan dengan “diikuti”, tentunya berada di belakang, dan bergerak sesuai dengan komando sang imam. Kepatuhan inilah yang menyebabkan sempurnanya jamaah. Dilarangnya makmum mengeraskan suara melebihi imam, adalah suatu perlambang bahwa para makmum tidak diperkenankan untuk mengambil tindakan atau menyempal di luar apa yang ditetapkan oleh pemimpinnya. Karena dalam prinsip berjamaah ini, seluruh tatanan gerak harus di bawah satu kepemimpinan. Penyempalan atau tindakan lain hanya akan membatalkan makna dan kesempurnaan shalat itu sendiri.

Selama gerakan shalat berjamaah belum selesai, dan ada orang yang tertinggal atau baru memasuki ruang masjid, maka orang yang baru datang tersebut (makmum masbuk), wajib bergabung dan masuk diantara shaf yang ada, kemudian dengan khusyu’ mengikuti seluruh gerakan imamnya. Prinsip ini seakan memberikan suatu simbolisasi bahwa seorang muslim tidak diperbolehkan untuk menyempal, membuat gerakan sendiri, padahal sudah ada shaf yang bergerak terlebih dahulu.

Inilah tatanan dalam shalat berjamaah yang ternyata mengandung nilai-nilai serta prinsip yang menunjukkan suatu perlambang agar umat Islam wajib berjamaah, apabila sudah berada dalam satu tempat, waktu shalat, dan telah mengumandangkan iqamat. Di dalam Al-Qur’an pun banyak disebutkan tentang wajibnya kita hidup berjamaah. Bahkan, pertolongan Allah hanya diberikan kepada setiap mukmin yang hidup berjamaah (yadullah fauqal jamaah), penuh persaudaraan, tidak pernah berbantah bantahan, saling mengasihi dalam suka dan duka yang dibalut oleh cahaya ukhuwah semata.

Sangat jelas, Allah memerintahkan agar kita hanya mengambil jalur petunjuk serta ikatan batin yang hanya didasarkan pada tali Allah, dan menghindarkan perpecahan (tafaruk), sebagaimana termaktub pada surat Ali Imran:103 dan ar-Rum: 32. Di mana pun seorang muslim berada, dia akan terus meningkatkan kualitas dirinya untuk menjadi bagian dari kelompok kaum mukminin, karena hanya dengan menjadi seorang mukminin, maka Allah akan memberikan pertolongan kepada dirinya. Seruan Allah di dalam Al-Qur’an yang merupakan petunjuk yang utama dan pertama bagi mereka yang telah berikrar syahadat, ditujukan hanya kepada mereka yang telah beriman (yaa ayuhaladzina amanuu).

Dengan demikian, yang dimaksud dengan jamaah, bukanlah hanya sekadar sekelompok orang, tetapi di dalamnya terikat satu “semen perekat” yang sangat kental, yaitu cita dan rasa, visi dan tindakan yang seragam, serta menyatu dalam kerinduan untuk meraih cinta dan ridha Allah (mahab’bah lillah) semata-mata. Oleh karena setiap anggota jamaah sangat sadar bahwasanya hanya orang-orang yang istiqamah, serta memiliki jiwa yang tenang sajalah yang akan mendapatkan kemuliaan di hari akhir kelak. Bagi setiap muslim yang mukmin, kehadiran jamaah merupakan pelabuhan hati, sekaligus sebagai terminal perjuangan hidupnya. Di dalam jamaah itulah, dia menimba butit-butir kebijakan hidup. Di dalam jamaah itu pulalah, ia mengasuh keimanannya sehingga setiap kali menambatkan hatinya, dia pun merasakan kedamaian Qur’ani.

Akan tetapi, tidak mungkinlah dia tenggelam atau terlalu asyik untuk menambatkan dirinya di pelabuhan ini. Sebab, selanjutnya dia harus segera berangkat mengayuh biduknya menerjang ombak samudra kehidupan yang penuh dengan liku-liku tantangan. Lalu dia menjelajahi samudra tersebut untuk mencari fadilah dan menaburkan jejak-jejak prestasi Qur’ani di se panjang perjalanannya, berdakwah, dan beruswah menyeru dan menjadikan dirinya sebagai manusia yang paling pantas menjadi teladan.

Tengoklah perilaku kita ketika mengikuti shalat Jumat, tidak ada khotbah dan shalat berjamaah yang terus berlangsung seharian, kecuali ditutup dengan salam. Kemudian setiap pribadi kembali ke tempatnya masing-masing untuk menyebar di muka bumi (f’antasiruu fil ardhi), lalu mempraktekkan apa yang telah diingatkan khotib, sebagimana disebutkan dalam surat al-Jumu’ah:10 dan al-Mulk:15. Maka jelas sudah bahwa jamaah bukan sekedar kumpulan manusia (as a crowd). Oleh karena di dalarn jamaah, ada satu prinsip yang mutlak harus dijadikan landasan pokoknya, ialah berpautnya cinta.

Dengan cinta sebagai dasar persaudaraan dan kegiatannya, maka hati setiap anggota akan terlihat transparan (tembus pandang). Tidak ada yang satu mencoba menyembunyikan cita rasanya kepada anggotanya yang lain. Karena hal ini jelas bertentangan dengan prinsip persaudaraan muslim, sebagaimana Nabi bersabda bahwa setiap muslim dengan muslim lainnya bagaikan satu bangunan tubuh, yang satu mengokohkan yang lainnya. Ke dalam pun saling mengoreksi atau menasihati dan ke luar dia saling mengokohkan dan membelanya dari jebakan kekafiran maupun bujukan kekufuran.

Hal ini berarti bahwa esensi jamaah bukanlah terletak pada wujud, tetapi lebih penting lagi adalah ikatan emosional dan keterikatan jiwa. Sebab, Al-Qur’an menegaskan bahwa tipikal jamaah bukanlah sekelompok manusia yang sekadar berjumpanya sejumlah manusia, sedangkan hatinya berpecah, itikad anggotanya berbeda satu dengan lainnya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT, “…Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah-belah….” (al-Hasyr: 14).

Hati yang dimaksudkan adalah aspirasi, ide, serta kerangka acuan dan tujuan dari para anggota jamaah yang sifatnya harus sama dan sebangun; yaitu hidup dalam jalan dan pengawasan Al-Qur’an serta Sunnah. Bagi kita yang telah mengaku diri sebagai seorang muslim, tentunya seluruh sikap hidup kita hanya didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah, sebab apabila dia mengambil ajaran atau panduan hidup yang lain, maka gugurlah nilai dan kualitas dirinya sebagai seorang muslim.

Adapun sikap dirinya hanyalah berserah diri atau taslim, seraya berkata, “kami dengar dan aku taat” (sami’na wa atha’na) tanpa dislogani kecuali mengharapkan ridha Allah semata-mata. Apabila Al-Qur’an dan Sunnah sudah disepakati sebagai satu-satunya petunjuk utama dan pertama serta dijadikan sebagai dasar aspirasi dan tindakan kita, maka bolehlah kita bersiap diri untuk menuju pada tingkat yang berikutnya, yaitu meraih gelar sebagai seorang pribadi mukmin, sebagaimana disebutkan pada surat at-Taubah:111-112.

Mengingat konsep jamaah adalah prinsip yang disyariatkan, maka siapa pun yang mencoba untuk menutup mata, bahkan tidak mau peduli dengan prinsip ini, maka terjebaklah dirinya ke dalam tatanan yang disadari maupun tidak. Dia telah mencabik ajarannya sendiri. Logikanya sangat sederhana, apabila sahnya seorang muslim karena syahadat, maka konsekuensi syahadat adalah bersikap hidup konsekuen dan denyutan jantungnya selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Prinsip berjamaah adalah mutlak ajaran Al-Qur’an. Kemudian dicontohkan dengan sangat indah oleh Rasulullah saw . Maka kesimpulannya, siapa pun yang tidak mau peduli dengan prinsip jamaah adalah membohongi dirinya sendiri. Apabila penolakan atas prinsip jamaah sudah mengakar sebagai suatu egoisme dan kecenderungan untuk mengisolasi diri dari pergaulan tatanan jamaah, maka jatuhlah dia ke dalam kelompok sempalan (mufariqun). Haru birunya umat Islam dikarenakan dia telah mencampakkan prinsip berjamaah. Bagaikan benda asing, umat Islam merasa alergi setiap mendengarkan kata kata tentang jamaah, bahkan bagaikan penyakit yang bisa menular Upaya dan kesadaran apa pun tentang arti jamaah ini, pastilah dianggap aneh, justru oleh orang Islam sendiri, sungguh ironis.

Apabila umat Islam sudah merasa aneh dengan ajarannya sendiri, sungguh apakah Allah tidak berkenan menganugerahkan karunia-Nya? Kehancuran umat Islam, bukan karena jumlahnya yang banyak, tetapi justru karena mereka sudah merasa asing dengan esensi agamanya sendiri. Kejayaan Islam pada kurun waktu paling awal, dimulai dari prinsip jamaah ini. Ikatan persaudaraan yang kental, perasaan yang sama di dalam menghadapi segala tantangan kehidupan, dan merasa memiliki kebenaran Islam adalah kondisi dari sesuatu yang mutlak. Mereka tidak pernah berniat atau melanggarnya sedikit pun, karena bagi mereka menjadi seorang muslim konsekuen adalah suatu aksioma Ilahiah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi keabsahannya.

Persatuan muslim bukanlah dikarenakan ikatan bangsa, primordial, kesukuan, ras, atau kelompok profesi, tetapi persatuan itu didasarkan atas iman semata-mata yang ditampung dalam semangat persaudaraan jamaah. Sejarah tentang kejayaan dan kemuliaan umat Islam di masa lalu tidak bisa dipungkiri eksistensinya tanpa kehadiran semangat jamaah. Pada periode awal, sejak di Darul Arqam, para sahabat yang mendarah-dagingi jamaah dengan mewarnai dunia dengan tauhid, telah melahirkan satu generasi yang sangat unik dan sangat disegani. Itu semua karena mereka menjadikan jamaah sebagai pelabuhan hati mereka untuk menimba, mengkaji, dan mempraktekkan semangat Qur’ani yang diilhami oleh tali persaudaraan yang teramat kuat

Tetapi tengoklah sekarang ini umat Islam terpelanting dalam kolam-kolam kecil, kebanggaan turunan, kelompok profesi, dan kepentingan, terperangkap dalam semangat primordial yang sempit. Kalaupun mereka mengaku sesama muslim, tetapi kepentingan golongan, suku, dan bangsa justru menjadikan penyekat yang paling utama. Kebanggaan kelompok ternyata nilainya telah melebihi semangat agamanya sendiri, bahkan melebihi semangat kemerdekaan dirinya sendiri yang setiap lima kali sehari diikrarkan sebuah pengakuan tauhid dalam melasanakan shalat, innaa shalati wa nusuki wa mahyaya wamamati lillahirabil alamiin. Sayang, banyak umat Islam tidak memahami dan tidak mau konsekuen mempraktekkan ucapannya sendiri.

Doa Iftitah tersebut kini hanya tinggal penghias bibir, sekadar formalitas, bahkan mungkin saja tanpa disadarinya apa yang diucapkan dalam doanya itu hanyalah sekadar pelengkap shalat, tidak ada bekasnya, dan tidak ada getaran kalbu. Tapi kita pun mahfum bagaimana bisa menghayati isi doa tersebut, karena kita pun tidak mengerti, bahkan membacanya pun kadang-kadang sangat terburu-buru, tanpa kehadiran jiwa, serta tanpa emosi sama sekali.

Padahal, kalau saja setiap pribadi muslim menyadari betapa dalamnya ikrar yang dia ucapkan ketika membaca doa iftitah tersebut, niscaya akan bergetar jiwanya, dan tersungkur dengan penuh kesahduan di hadapan Ilahi Rabbi. Oleh karena ikrar itu adalah lambang “kebebasan bertanggung jawab” manusia sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifah fil-ardhi). Kemerdekaan jiwa inilah yang dimiliki oleh kelompok para pengikut Rasul pada kurun pertama kejayaan Islam. Mereka bergabung dalam jamaah yang secara kuantitatif adalah minoritas, tetapi tampil sebagai kelompok yang bernilai, dikarenakan memiliki harga diri dan kemuliaan sebagai manusia merdeka.

Rasio yang dibimbing oleh hawa nafsu, tentunya tidak pernah akan memahami untuk dapat mengalahkan kemenangan umat Islam di dalam Perang Badar untuk melawan musuh-musuh jahiliah yang berlipat ganda, persenjataan yang konvensional, dan terbatas? Akan tetapi, rasio yang dibimbing cahaya Ilahi, lentera iman, dan semangat tauhid, pastilah dengan sangat tangkas akan segera memperoleh jawabannya, “Insya Allah, kita pasti menang karena Allah beserta kita.”

Sesekali kita pun boleh bertanya, semangat apakah gerangan yang mengilhami para “penyiar” Islam sehingga dalam kurun waktu yang sangat singkat, cahaya kebenaran telah memeluk separo dari belahan bumi. Padahal mereka tidak dibayar, tidak mendapatkan pakaian yang cukup, bahkan harus menghadapi berbagai suku bangsa yang asing, daerah yang sulit, dan berbagai budaya yang sudah mengakar di kalangan penduduk. Akan tetapi, para mujahid dakwah mampu menyebarkan Islam dalam tempo yang sangat menakjubkan.

Sir Thomas Arnold yang menulis sebuah buku berjudul, The Preaching of Islam terkagum-kagum melihat prestasi ini, sehingga walaupun agak sarkastis dia melukiskan kejayaan sinar dakwah itu sebagai “suatu kekuatan dakwah yang luar biasa daripada Roma”. Prestasi ini semua dikarenakan di dalam dada para pelopor pertama (assabiquunal awwalun) memiliki kepribadian yang sangat khas, yaitu hanya berpandukan pada Al-Qur’an. Mereka tidak pernah mempunyai sedikit pun keraguan terhadap isi kandungan Al-Qur’an sebagai panduan hidup yang akan memberikan kekuatan yang maha dahsyat apabila mau melaksanakannya dengan konsekuen.

Mereka adalah tipikal manusia yang berorientasi pada prestasi amaliah. Sehingga cara berpikir para jamaah ini, hanya semata-mata ingin dan sangatlah rindu untuk segera mengamalkan Al-Qur’an, walaupun hanya satu ayat. Betapa bersungguh-sungguhnya mereka, sehingga dalam sebuah hadits yang sahih, Rasulullah menyuruh Abdullah bin Umar, supaya mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu. Begitulah juga para sahabat seperti Utsman, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, dan Ubai bin Ka’ab telah menjadi bagian dari wiridnya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an pada setiap hari Jumat.

Merupakan kebiasaan bagi para sahabat. Mereka secara bergotong-royong membaca Al-Qur’an, dengan cara membagi-baginya berdasarkan surat-surat tertentu secara berurutan dari mulai surat al-Baqarah sampai an-Nas, sehingga dalam tempo yang sangat singkat mereka mampu mengkhatamkannya. Inilah salah satu ciri khas dari pribadi anggota
jamaah, di mana Al-Qur’an dijadikannya “ramuan batin” dan bagian tidak terpisahkan dari hidupnya. Mereka merasa tidak bernilai apabila ada satu hari tanpa membaca Al-Qur’an.

Semangatnya untuk membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an, yang didorong oleh keikhlasan yang murni, bukanlah sekadar untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai bahan ilmu pengetahuan, tetapi sebagai salah satu panggilan jiwa, perasaan akrab dengan Ilahi. Kemudian, muncul dorongan untuk segera lari dan ke luar dari kemah-kemah mereka, mengembara ke setiap pelosok bumi, untuk mengamalkan dan mendakwahkannya. Mereka sadar bahwa hanya dengan menghampiri, menghayati, dan mengamalkan Al-Qur’an sajalah, mereka akan memperoleh petunjuk. Apalagi mereka pun sadar bahwa apabila mereka mengambil jalan lain atau referensi lain selain Al-Qur’an, maka hanya perpecahan dan kesesatanlah yang akan menimpa jamaah dan persatuan akidah mereka.

Allah SWT berfirman, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan (yang lain) karena jalan- jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (al-An’am: 153).

Para sahabat yang berkumpul dalam jamaah adalah manusia Qur’ani, bahkan kehidupannya semata-mata hanyalah refleksi dari keinginan Al-Qur’an belaka. Pantaslah apabila kepada mereka digelari sebagai “Al-Qur’an berjalan” (the walking Qur’an). Menurut standar atau tolak ukur budaya jahiliah, tentu saja sikap hidup Qur’ani, seperti yang ditunjukkan jamaah para sahabat Rasul itu, dianggap sebagai suatu kehidupan yang eksklusif. Dan, tidak aneh pula apabila tuduhan palsu yang diarahkan kepada para sahabat –pada zaman jahiliah– sebagai manusia yang membawa agama baru, yang akan merusak tatanan budaya, dan kepercayaan yang telah turun-temurun dipraktekkan oleh ajaran nenek moyangnya melalui sesembahan kaum jahiliah: Latta, Mana, dan Uzza.

Padahal, apa yang dilakukan oleh para jamaah itu bukanlah karena kebencian, tetapi karena hanya ingin meluruskan kembali, fitrah manusia untuk bersatu dalam satu ikatan tauhid, yaitu hanya bertuhankan Allah semata, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. ” (al-Anbiya’:92).

Hanya karena perasaan penuh kasih, maka para sahabat tersebut ingin mengajak umat manusia untuk meluruskan keyakinannya; dan menjauhi kesesatan yang disebabkan oleh hawa nafsu (vested interest) kaum jahiliah. Memahami arti dan esensi jamaah, berarti setiap pribadi muslim terpanggil untuk selalu mendahulukan nilai persamaan, persaudaraan, dan kekompakan. Tentu saja bahwa aspirasi seperti ini, seharusnya menjadi ciri dan cara hidup setiap pribadi muslim, yang tergabung dalam jamaah mana pun.

Di samping itu, berjamaah janganlah ditafsirkan sebagai suatu penyempalan dari tatanan harakah dakwah, karena bisa jadi yang dimaksudkan dengan jamaah itu adalah suatu bentuk gerakan yang terorganisasi untuk melangsungkan dan memberikan kontribusi amar ma’ruf nahi munkar di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteksnya yang lain, pemahaman terhadap esensi jamaah mendorong setiap pribadi muslim untuk ikut terjun secara berkelompok ke dalam suatu gerakan yang mempunyai aspirasi serta tujuan yang jelas.

Kita dilarang untuk hidup secara egois (ananiyah) dan membutakan diri dari berbagai aspek problematika umat. Dan, cara untuk masuk dalam kehidupan nyata itu adalah seruan Islam yang mengajak setiap individu untuk berjalan secara bergandengan tangan, bersaf-saf yang rapi bagaikan suatu benteng yang kokoh untuk membendung, bahkan melawan segala paham jahiliah. Hal ini sebagaimana ucapan Umar bin Khaththab:

“Bahwa kebenaran tanpa organisasi yang rapi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi.”

Memang benar bahwa kebenaran itu akhirnya pasti menang, karena pertolongan Allah, tetapi harap diingat pula bahwa apa yang dikatakan Umar r a. adalah suatu peringatan. Sesungguhnya, pertolongan Allah hanyalah diberikan kepada mereka yang memenuhi kriteria kekuatan saf atau barisan yang rapi.

Dengan kokohnya persatuan umat serta adanya kepemimpinan yang tangguh; niscaya gerakan Dajal zionistik dapat kita hadapi secara kompak. Sebaliknya, bila kita berpecah-belah maka hanya kenelangsaan yang akan ditanggung generasi demi generasi umat Islam yang telah terpuruk dalam kelompok-kelompok dan budak nafsu kaum Dajal tersebut

dikutip dari buku “Dajjal dan Simbol Setan” karya Drs. Toto Asmara. Penerbit Gema Insani Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s