Suami


Mendengarnya bak petir di siang hari, ketika ajakan nikah menghampiri. Bak terguyur hujan salju di gurun pasir ketika keraguannya sirna dengan diucapkannya ijab qabul(pengalaman pribadi).

Menikah, tentu siapa saja menghendaki datang padanya. Dengan menikah menjadi sempurnalah apa yang kurang darinya, terutama urusan agamanya. Menjadi sirna pulalah apa yang menjadi keraguan bagi dirinya. Dangan datangya tambatan hatinya yang siap melayani dalam suka dan dukanya yaitu istri yang dicintainya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia telah menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram padanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda pada kaum yang berfikir”. (QS.30: 21).

Seorang istri, selalu setia menemani dan selalu ceria dan menyenjukkan ketika dihadapan suami(itulah istriku Ngiceupan Ngiceupan). Menjadi ringanlah masing-masing urusan dibuatnya. Senantiasa banting tulang, bahu membahu dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, memelihara kemaluannya, dan patuh pada suaminya, maka dia boleh masuk surga melalui pintu mana pun sesuai yang dikehendakinya.” (Hadits ini dibawakan oleh Syaikh Albani di buku Adab Az Zifaf Bab Wasiat kepada Pasangan Suami Istri).

Jika akhwat(wanita)yang menjadi pilihannya tapi tidak punya bekal agama, tentu seorang ikhwan(laki-laki) ada dua hal yang harus dihadapi ketika ia telah siap menikahinya. Yaitu agama dan sifatnya, dua hal itulah yang akan menjadi tantangan baginya. Maka dari itu menikahi wanita semacam ini(yang tidak berbekal agama) seorang suami harus benar-benar mempunyai jiwa seorang murabbi yang mumpuni. karena dalam proses pentarbiyahanya(memberi pendidikan agama) dia akan sekaligus akan mengahdapi siafat-sifatnya. Kesabaran, keuletan dan tentu ekstra rasa cinta hasus dimilikinya. Karena sungguh tidak mungkin jika itu akan mudah dilalui jika Alloh tidak berkehendak atasnya(perubahan istrinya).

Dan jika akhwat(wanita)yang dinikahi bekal agamanya memadai dia(suami)hanya satu yang akan dihadapi yaitu sifat dari istrinya(watak asli atau tabi’at). Di misalkan si istri mempunya temperamental tinggi, tentu dari hal kesabaran dan mengalah seorang suami harus memeiliki. Merubah sifat tentu akan jauh lebih sulit dari pada merubah istri dalam hal agamanya. Karena watak asli telah tumbuh dari awalnya(pengaruh kondisi tertentu yang ada sejak lama termasuk keluarga). Bisa jadi ketika seorang istri dimungkinkan kualitas ilmunya lebih tinggi dari pada suaminya belum tentu juga ia akan membentuk seorang istri yang baik karena salah satu tabiatnya asli yang ada pada istrinya.

Untuk itu ketika terdapat pada seorang istri tentu tidak melulu kekurangan tersebut menjadi bahan olok-olok bagi dirinya. Raslu shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, karena kalaupun dia membenci salah satu perangainya, tentu ada perangan lainnya yang dia sukai.”(HR. Muslim (IV / 178 – 179).

Sabar dan cinta salah satu hal bagi seorang suami sekaligus seorang murabbi. Dijadikannya kesabaran ketika menaungi sitri dan dijadikannya cinta sebagi modal ketia ia menjadi seorang pendamping. Lemah lembut dalam tutur katanya menjadikan nyaman ketika istri melayaninya. Kedewasaannya ketika menghadapi masalah menjadikan ia(istri) merasa nyaman disisinya. Itulah suami yang rabbany, mendidik dan mencintai.

setulusnya, untuk istri dan anakku

Allahu a’lam

 

dikutip dari website sebelah: dudung.net

dengan judul asli: Untuk para suami yang rabbani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s