Jatuh Cinta ala Ikhwan Akhwat


“Jatuh cinta ala Ikhwah? Gak salah tuh? Kok ihwah bisa jatuh cinta? Maksudnya gimana nih?”

Mungkin itulah beberapa pertanyaan dan juga masih banyak pertanyaan lainnya yang bakal muncul di kepala teman-teman semua ketika membaca judul di atas. Bukan ingin cari sensasi atau bahkan menghakimi, tapi tulisan ini lahir semata-mata karena keprihatinan saya terhadap fenomena jatuh cinta antar ikhwan dan akhwat yang cenderung sudah keluar dari koridor syari’at.

Ya…, inilah fenomena yang akhir-akhir ini semakin vulgar muncul ke permukaan. Sungguh sesuatu yang sebenarnya wajar, namun ternyata lebih sering disalahimplementasikan sehingga mengakibatkan degradasi akhlaq, bahkan degradasi iman…!!! Na’udzubillaah.

Antara Cinta dan Ilmu

Kalo kita ngomongin tentang cinta, maka segala kerumitan yang seolah-olah muncul di hadapan kita. Cinta dengan kesederhanaannya, ternyata mampu membawa implikasi serius bagi si pelakunya. Tentu untuk yang mampu membawa cinta tersebut dalam nuansa yang sakral dan halal, cinta akan menjadi sarana yang positif dalam rangka mendekatkan diri kepada sang Pemilik Cinta itu sendiri. Tapi, ketika cinta itu dirusak dan dihiasi oleh nafsu dan maksiat, maka bukan hanya dosa yang akan menjadi tanggung jawabnya, berbagai bahaya lain, baik berkaitan dengan agama, sosial, maupun psikologi si pelaku sendiri.

Lalu bagaimana jika ternyata yang jatuh cinta itu adalah para ikhwan dan akhwat, yang notabenenya merupakan kalangan yang dalam pandangan orang awam adalah orang-orang yang lebih paham tentang agama. Bahkan mereka kerapkali dijadikan standar kebaikan dan panutan dalam akhlak dan pemahaman agama.

Kalo kita bicara idealnya, tentu bagi para ikhwan dan akhwat yang sedang jatuh cinta tersebut menjalin perasaan yang indah itu dalam ikatan bingkai pernikahan. Karena hanya itulah jalan terbaik untuk melabuhkan cinta. Dan saya rasa pun cukup banyak buku maupun tulisan yang menyajikan tata cara ideal menuju pelaminan. Namun, ternyata kenyataan tak seindah harapan. Akhirnya pun ‘pacaran’ pun jadi alternatif.

“Ikhwah pacaran? Kayaknya nggak mungkin banget deh…!!! Masa ada sih yang kayak gitu?”

Ya, inilah kenyataan yang banyak terjadi di sekitar kita. Bukan sekadar prasangka apalagi gosip belaka. Sungguh ironis dan menyakitkan hati memang. Ketika ikhwan dan akhwat yang lebih paham agama dan sudah tahu hukumnya, justru terjatuh dalam penyakit yang mematikan ini.

Bukan cintanya yang salah, namun aplikasi dalam menunjukkan cinta itu yang terlarang. Dan yang menjadikan lebih sakit hati, ketika mereka melakukan itu sementara tahu ilmunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat, lalu dia dimasukkan ke dalam neraka. Maka berhamburanlah usus perutnya di neraka. Kemudian dia pun berputar sebagaimana keledai berputar pada batu gilingan. Maka penduduk neraka berkumpul di depannya seraya berkata, “Wahai fulan, kenapa engkau begini? Bukankah engkau dahulu yang memerintahkan kami dengan sesuatu yang ma’ruf dan melarang kami dari sesuatu yang mungkar?” Laki-laki itu menjawab, “Betul. Aku dahulu memang memerintahkan kalian dengan sesuatu yang ma’ruf, namun aku tidak melakukannya. Dan aku telah melarang kalian dari kemungkaran, namun aku sendiri melakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penyebab Cinta Itu Bersemi

Sebelum melanjutkan pembahasan, mungkin akan lebih menarik kalo kita berusaha mencari sumber-sumber yang membuat para ikhwan or akhwat itu pada jatuh cinta. Memang, bahwa cinta itu muncul secara tiba-tiba, namun pun demikian kemunculan cinta itu sendiri pada umumnya dipicu oleh sesuatu hal. Bahasa Fisikanya hukum sebab-akibat.

Tapi karena kali ini kita membahas tentang ikhwan dan akhwat, maka tentu dalam mengkaji asal usul tumbuhnya cinta harus sedikit memahami bagaimana pola pikir dan pemahaman para aktivis tersebut yang tentu saja berbeda dengan kebanyakan orang awam.

Nah, hal-hal apa saja yang mampu menyulut cinta di hati para aktivis itu? Berikut diantaranya :

– Agama dan Keshalihan

Saya rasa ini adalah tolak ukur pertama yang dijadikan pegangan bagi para aktivis itu. Bagaimana tidak… alangkah menyenangkan bisa melihat ikhwan yang rajin shalat, suaranya merdu kalo lagi mengaji, nggak pernah ninggalin puasa sunnah, pinter bahasa arab, hafalannya banyak.. de-el-el… Begitu pula pula, betapa senengnya lihat akhwat yang pake jilbab rapi dan lebar, selalu menundukkan pandangan, dan lain sebagainya. Kekaguman pada ‘kesan alim’ itu yang disadari atau tidak menjadi awal mula munculnya benih cinta.

– Pribadi yang Menakjubkan

Inipun juga standard yang biasanya dijadikan parameter bagi pada aktivis tersebut… Biasanya mereka akan lebih mudah kagum sama orang-orang yang punya tipe aktivis sejati. Aktif di rohis or LDK, aktif di BEM, punya IP yang bagus, berwawasan luas, memiliki jiwa kepemimpinan, tegas, de-el-es-be… Wah, siapa sih yang nggak seneng… Dan biasanya, mereka yang bertipe aktivis sejati ini memiliki ‘nilai jual’ yang sangat tinggi. Nggak perlu susah-susah nyari calon, karena mereka biasanya bakal jadi dambaan di hati para pengagumnya.

– Perhatiannya itu lho…

Siapa sih yang nggak ingin diperhatiin…? Ini juga salah satu daya tarik yang perlu digarisbawahi. Biasanya mereka yang bertitle aktivis tuh punya perhatian dan keprihatinan yang tinggi. Mulai dari lingkungan terdekatnya sampai orang yang nggak dikenal pun mereka perhatian banget… mulai dari sekadar sms, telpon, or say hello, dan akhirnya yang dilimpahi perhatian tuh bakal klepek-klepek tak berkutik.

– Wajah yang menawan plus senyum yang manis

Senyum memang adalah ibadah. Yang dengannya akan terajut ukhwah di antara manusia. Nah, bagaimana jika yang melempar senyuman itu ikhwan, dan yang mendapat senyuman itu akhwat… Begitu juga sebaliknya. Apalagi kalo yang kasih senyum juga punya wajah tampan or cantik… Udah hampir pasti bakal bergemuruh tuh hati.

Nah, kembali ke permasalahan. Apakah itu berarti keempat hal di atas adalah terlarang? Saya rasa untuk mengatakan terlarang secara mutlak adalah suatu hal yang terburu-buru. Mengingat bisa jadi bukan keempat di atas bukanlah suatu yang disengaja oleh pelakunya, melainkan sudah merupakan watak. Apalagi keempat hal di atas merupakan asal muasalnya merupakan sendi-sendi Islam yang hanif.

Solusi yang Patut Dicermati

Seperti yang telah sedikit disinggung di atas, bahwa ketika perasaan simpati, sayang, cinta or apalah namanya muncul, maka menyandarkan cinta itu ke dermaga pernikahan adalah solusi yang cerdas dan tepat. Karena saya rasa tidak ada hal lain yang begitu efektif dan efisien -meminjam istilah manajemen- selain menikah, meski dalam sebuah hadits, Rasulullah pun juga memberikan alternatif lain untuk puasa. Namun persoalannya siapakah yang mampu untuk terus menerus berpuasa?

“Lalu, bukankah menikah juga adalah hal yang tidak sederhana? Butuh kesiapan finansial dan kemampuan memberikan nafkah? Sementara bagi mereka yang jatuh cinta tersebut di atas sebagiannya belum memiliki itu semua?”

Maka, melupakan dan mengubur perasaan itu dalam-dalam adalah suatu kewajiban. Karena bagaimanapun juga dan diatasnamakan apapun, kedudukan cinta yang kayak gitu tetap belum halal selama belum menikah. Jangan sampai justru sebaliknya, dengan dalih cinta akhirnya malah tetap melanjutkan ke hubungan yang haram dan terlarang, karena hal itu tentu adalah sebuah tindakan yang nekad, salah, bodoh dan merusak.

“Tapi, saya tidak tega untuk mengakhirinya? Saya khawatir akan menyakitinya, membuatnya menangis dan akhirnya berbuat zhalim kepadanya?”

Ya ikhwah, bagaimana mungkin anda -yang paham agama- takut menyakiti seseorang, membuat menangis atau bahkan berbuat zhalim kepada manusia, sementara secara bersamaan hal yang anda lakukan itu justru perbuatan zhalim kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Dzat yang menciptakan kalian berdua? Bukankah hak Allah lebih wajib untuk kita penuhi daripada hak manusia? Bukankah adzab Allah lebih kita takuti daripada sekadar tangisan manusia. Di manakah posisi iman anda saat itu? Apalagi jika ternyata anda lebih memilih untuk mendahulukan cinta kepadanya ketimbang cinta kepada-Nya? Wal iyadzubillah…

Sebuah Nasihat yang Selayaknya Kita Renungkan

Ada sebuah ungkapan dan permisalah yang menarik, bijak, dan menyejukkan yang ditulis oleh al-Ustadz Abu Umar Basyir hafizhahullah dalam bukunya Sutra Cinta, yang semoga bisa menjadi cemeti yang akan menyadarkan kesalahan ini. Di mana dalam buku tersebut beliau berkata :

“Persoalannya, bagaimanakah bila rasa cinta itu muncul jauh-jauh hari sebelum terbersit rencana pernikahan? Seorang pemuda yang jatuh cinta kepada gadis tetangganya? Atau seorang pelajar atau siswa yang tertarik dan menaruh hati pada teman sekolahnya?

Bila ketertarikan itu muncul secara wajar, bukanlah persoalan. Yang menjadi persoalan, sekali lagi, bila cinta itu dilampiaskan dengan cara yang haram. Satu-satunya cara yang halal untuk melampiaskan cinta tersebut hanyalah dengan menikah. Kalau belum mampu menikah, tidak ada satu carapun yang bisa menyelesaikan kasus penyakit cinta tersebut. Ia justru harus memeranginya, bukan karena haramnya cinta kasih, namun karena haramnya cinta itu dilampiaskan di luar aturan syari’at. Sebagai analoginya, mungkin bisa kita cermati makanan dan minuman. Betapa lezatnya suatu makanan, dan betapa lapar pun kita, meski makanan itu halal, namun saat kita sedang berpuasa terutama puasa wajib di bulan Ramadhan, kita harus menahan diri dan gejolak nafsu dalam jiwa kita, hingga tiba saatnya berbuka. Kalau khawatir kesegaran makanan tersebut berkurang, berikan saja kepada orang yang sedang tidak berpuasa. Artinya, bila tiba saat berbuka dan Allah menakdirkan kita tetap bisa menyantap makanan itu, alhamdulillah. Namun bila tidak, ya tidak apa-apa.

Bila rasa cinta itu masih menggeeliat di hati seseorang, sementara ia belum mampu menikahinya, maka rasa cinta itu tidak boleh dipupuk. Karena melampiaskan cinta dengan mengobrol, berbual-bual, saling melihat, dan bepergian bersama-sama adalah haram. Dan sebenarnya cinta seperti itu lebih layak disebut nafsu asmara, dan bukan cinta sejati. Balutannya adalah nafsu, bukan iman. Karena orang yang ingin menyantap makanan yang bukan miliknya, atau yang haram hukumnya bila dimakan, atau menggauli wanita yang bukan istrinya, mencabut tanaman yang bukan kepunyaannya, berarti telah memiliki nafsu untuk berbuat kezhaliman, berbuat haram, dan melakukan pelanggaran terhadap aturan Allah. Cobalah simak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “ Jangan melihat lawan jenis lebih dari satu kali. Karena melihat yang pertama (tanpa disengaja) adalah mubah, tapi yang kedua sudah haram.” Juga sabda beliau kepada Ali, “Palingkan pandanganmu dari wanita itu.”

Maka, jelas seorang muslim atau muslimah dilarang saling melihat lawan jenisnya untuk mengobrol berlama-lama, apalagi bila di hati mereka sudah tertanam rasa saling menyukai, yang menyebabkan pandangan bukan hanya berulang dua kali, tapi puluhan atau bahkan ratusan kali. Nah, berapa banyak dosa yang dia tumpuk selama mengobrol dengannya?”

– Sekian uraian ust. Abu Umar Basyir hafizhahullah –

Sekadar Pengingat Saja

Mungkin apa yang saya tulis di atas cenderung skeptis. Seolah saya adalah orang yang tidak pernah merasakan cinta, tidak pernah jatuh cinta, atau bahkan selalu mendapatkan yang namanya kegagalan cinta. Seolah mengambarkan saya adalah orang yang kaku, anti cinta dan nggak punya rasa kasih sayang.

Namun justru sebaliknya, saya adalah orang yang normal, pernah merasakan apa itu cinta, jatuh cinta dan kegagalan cinta. Saya juga bukan seorang yang kaku apalagi anti cinta dan nggak punya kasih sayang. Karena disadari atau tidak, apa yang saya tulis ini merupakan bentuk lain dari rasa cinta dan kasih sayang saya. Meski seolah terlihat seperti sebuah hal yang tampak berlawanan. Kesalahan-kesalahan saya di masa lalu itu membuat saya tidak ingin melihat ada sahabat dan saudara seagama lainnya yang terjatuh pada lubang yang sama.

Kesalahan-kesalahan yang muncul akibat kebodohan saya waktu itu, yang alhamdulillah Allah meyelamatkan saya sebelum akhirnya mendapatkan dan merasakan cinta yang sejati. Karena seorang muslim yang hakiki itu bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, namun adalah orang yang ketika terjatuh dalam kesalahan segera bertaubat kembali kepada-Nya.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya juga teringat sebuah perkataan salah seorang teman akhwat di UI, di mana beliau hafizhahullah pernah mengingatkan saya ketika itu yang kurang lebih maknanya, “Jangan pernah menyirami bunga itu, atau ia akan terus tumbuh.” Maksudnya, jangan pernah menyiram dan memelihara cinta itu, jika tidak ingin ia tumbuh dan terus tumbuh. Atau dengan kata lain, bunuh dan redamlah cinta itu jika engkau belum sanggup untuk menikahinya.

Semoga apa yang saya tulis di atas, bisa menjadi cerminan tingkah laku dan perbuatan kita selama ini dalam memahami dan memaknai cinta itu sendiri. Pun bisa menjadi pengingat di kala lupa serta penanda di kala terlelap. Semoga Allah senantiasa membimbing kita di atas kebenaran dan memalingkan kita dari segala maksiat dan keburukan. Dan Rabbku Maha Mengabulkan Do’a…

 

dikutip dari website sebelah: group facebook – AKTIVIS MUDA ISLAM

dengan judul asli : Jatuh Cinta ala Ikhwan dan Akhwat

3 thoughts on “Jatuh Cinta ala Ikhwan Akhwat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s