Rokok - Renungan Islam - Mixer Roti

Senjata Makan Tuan – Renungan Islam


Rokok - Renungan Islam - Mixer Roti

Rokok - Renungan Islam - Mixer Roti

Sepuluh tahun yang lalu, aku menikah dengan seorang pemuda perokok tanpa kuketahui bahwa ia merokok…meskipun ia adalah orang yang berwawasan dan memiliki perilaku yang baik. Ia juga menjaga shalatnya, yang membuatku mencintainya. Hanya saja aku telah merasakan siksaan yang luar biasa akibat kebiasaan merokoknya. Baunya yang busuk menyebar di tubuh dan pakaiannya. Aku berusaha agar ia dapat meninggalkan kebiasaan buruk itu, dan ia selalu berjanji padaku. Namun ia selalu saja menunda dan menunda…

  Continue reading

Renungan Islam

Waspada Cinta – Renungan Islam


Renungan Islam

Renungan Islam

Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, dihiasi dengan cinta dan kasih sayang, yang memperhalus hati dan memperindah kehidupan. Tetapi Cinta ini pula tak jarang tiap orang dililit nestapak, duka lara, bahkan berperilaku hina dan nista.

Cinta manakah yang benar-benar membawa berkah? Cinta yang membawa berkah adalah yang dibalut karena hari takut kepada Allah semata, sedangkan cinta yang membawa nista adalah cinta yang berbalut hanya dengan nafsu syahwat belaka.

Oleh karena itu, Keindahan Cinta akan terasa, jika ijab kabul menjadi pengokoh cinta di jalan yang Allah ridhoi.

Saudadraku, waspadalah terhadap cinta yang tidak diridhoi oleh Allah dan pilihlah cinta yang disukai yang membawa kepada rahmat dan kemuliaan disisi Allah.

Tausyiah Aa Gym

Renungan Islam | SOLUSI JIKA ISTRI MENOLAK MANHAJ SALAF


Assalamu alaikum Syaikh, ana mau tanya mengenai problem rumah tangga. Ana menikah sudah 3 tahun dan dikaruniai anak laki-laki umur 1,7 tahun yang montok. Istri ana orang yang sulit untuk didakwahi/dinasehati dengan manhaj Salaf, karena istri ana orang tradisional dan keluarganya juga orang tradisional. Istri ana selalu ana nasehati untuk selalu belajar ilmu agama walau baca buku, tapi dia gak mau baca dan gak mau ikut manhaj Salaf, dia akan terus ikut kelompok tradisional, bahkan dia menganggap Salaf itu sesat.

Continue reading

Renungan Islam | RAYUAN-RAYUAN BERBAHAYA IKHWAN KE AKHWAT


Rayuan-rayuan berbahaya seorang ikhwan kepada akhwat:

01. Ukhti, ana mencintaimu karena Allah…

02. Ana jadikan anti sebagai adik angkat, mau kan?…

03. Anti cantik kalau pakai jilbab…

04. Jika di hatinya Ali terukir nama Fathimah, maka dihatiku terukir nama anti…

05. Ukhti, apakah engkau tulang rusukku yang bengkok?

06. Assalamu alaikum, anti sudah makan?

Continue reading

Renungan Islam | Jamaah dan Essensi Persatuan Umat (3)


l. Ta’aruf (Saling Mengenal)

Bagaimana mungkin terjadi wujud persaudaraan apabila hati penuh dendam amarah. Apakah kita telah berubah haluan sehingga menjadikan hawa nafsu menjadi Tuhan, dan tidak ada lagi pintu hati yang terbuka untuk mengulurkan tangan? Bagaimana mungkin kita membangun tali persatuan apabila tali silaturrahmi telah putus atau bahkan menumpuk di “gudang” karena tidak pernah direntangkan sama sekali?

Padahal, kita mengenal peribahasa: “tak kenal maka tak sayang”. Begitu juga dalam hal berjamaah, ta’aruf ini merupakan tiang pertama yang harus ditegakkan dalam menjalin tali persaudaraan. Dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi, setiap anggota jamaah wajib ber-ta’aruf sehingga dengan cara seperti ini, akan timbullah tiga rasa yang merasuk setiap relung dada anggota jamaah yaitu sebagai berikut:

Timbulnya rasa persaudaraan yang kokoh.
Berseminya rasa kasih sayang yang mendalam.
Berbuahnya rasa tanggung jawab yang besar.

Untuk membuahkan rasa persaudaraan tersebut, setiap anggota hendaknya memiliki jiwa besar untuk siap menerima dan memberikan bantuan dan pertolongan kepada sesama saudaranya. Menerima kritikan dan memberi teguran dengan kata-kata yang penuh kebijakan adalah warna anggota jamaah yang rindu persaudaraan muslim tersebut. Hendaknya, jiwa besar ini mampu mendorong setiap anggota untuk berpikir positif (khusnudzan), dengan cara sesama saudaranya saling menasihati. Kalau perlu memberikan kritikan kepada sesama saudaranya dengan landasan semangat seorang mutawadhi (rendah hati). Kritikan yang diarahkan kepada dirinya, akan dia terima atau dianggap sebagai “pantulan cinta” dari sesama saudaranya yang merasa takut apabila dirinya terjerumus dalam kezaliman.

Continue reading

Renungan Islam | Jamaah dan Essensi Persatuan Umat (2)


A. Identitas Anggota Jamaah

Ibarat pohon yang akarnya menghunjam kuat dan daunnya rimbun mencakar langit. Demikian pula dengan jamaah, akarnya adalah tauhid, batangnya adalah persaudaraan, daunnya adalah zikir, dakwah adalah bunganya yang semerbak penuh kasih, dan akhirnya bersiaplah memetik amal prestatif yang akan memberikan rahmat bagi alam sekitarnya (rahmatan lil ‘alaamin).

Ciri atau karakter orang mukmin yang berhimpun dalam jamaah tersimpulkan dalam sepuluh mutiara akhlak orang beriman yang akan diuraikan berikut sebagai bahan renungan bagi yang ingin mengembangkan kehidupan rohaninya dari seorang muslim menjadi mukmin. Sepuluh mutiara akhlak mukmin itu di antaranya sebagai berikut:
1. Berpikir dan bertindak sesuai dengan petunjuk dan wawasan Al-Qur’an (Quranic Oriented).

2. Melaksanakan hijrah dan jihad dengan penuh rasa tanggung jawab dan keikhlasan.

3. Tampak semangat persaudaraannya diantara sesama mukmin yang sangat kental dan penuh kasih.

4. Sangat menghargai keputusan musyawarah, selalu bertindak amanah menjaga keluhuran budi, indah akhlaknya, dan selalu ingin memberikan uswah atau keteladanan yang Qur’ani.

Continue reading

Renungan Islam | Jamaah dan Essensi Persatuan Umat (1)


“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercera-berai…” (Ali Imran:103).

Menghadapi tantangan zaman yang semakin mengglobal serta jaringan Dajal yang telah merasuki seluruh denyut kehidupan manusia, seharusnya ada semacam tekad yang sungguh-sungguh diantara kita. Yaitu, tekad bahwa gerakan kaum kafir tidak mungkin dihadapi secara individu, kecuali dalam satu tatanan persatuan umat (ittihadul-ummah) yang hanya berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kekuatan, kekompakan, kecerdasan, serta ambisi kaum Dajal matrialistis tersebut bukan sebuah ilusi, tetapi benar-benar nyata. Bukan hanya dapat dibuktikan secara faktual, tetapi diperingatkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Sehingga, tidak ada satu cara pun untuk menghadapi mereka kecuali membangun akidah dan pemahaman agama secara komprehensif bagi generasi muda agar mereka mampu menghadapi tantangan global dan memenangkannya, sebagaimana termaktub dalam surat at-Taubah:33, al-Fath:28, dan ash-Shaff:9.

Continue reading

Renungan Islam | Nasehat Bagi yang Belum atau Sudah Menikah


SEBUAH RENUNGAN
Semoga bermanfaat.

Renungan Islam
Bismillahirrahmanir rahiim …
Dengan kerendahan hati, mari kita simak pesan-pesan Al Qur’an tentang tujuan hidup yang sebenarnya. Nasehat ini untuk semuanya. Baik untuk mereka yang telah memiliki arah. Bagi mereka yang belum punya arah. Atau bahkan yang tak punya arah sekalipun. Nasehat ini untuk semuanya. Semua yang ingin mendapat dan meraih kebaikan.

Nikah itu ibadah. Nikah itu suci … ingat itu. Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena keturunan, bisa karena kecantikan, ketampanan, dan bisa karena agama. Jangan engkau jadikan harta, kecantikan, dan keturunan sebagai alasan karena itu akan menyebabkan celaka. Jadika agama sebagai alasan. Engkau akan mendapatkan kebahagiaan. Tak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta.

Namun, jika cinta engkau jadikan satu-satunya landasan, maka keluargamu akan rapuh. Mudah terombang-ambing dan hancur kemudian. Jadikanlah Allah sebagai landasan. Niscaya kau akan selamat. Tidak saja di dunia, tapi juga di akhirat. Jadikan ridho Allah sebagai tujuan. Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai. Insyaallah …….

Untuk calon suami yang sholih …

Jangan kau menginginkan menjadi raja dalam istanamu. Disambut isteri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan. Continue reading

Renungan Islam | Perhatikanlah Anak-Anakmu


Renungan IslamDiriwayatkan dari Anas ra, ia berkata, “Suatu hari aku sedang bersama anak-anak. Tiba-tiba muncul Rasulullah SAW dan berkata, ‘Assalamualaikum, hai anak-anak’.”

Sementara itu, pada suatu hari, seorang pegawai Umar bin Khatab ra menemui khalifah tersebut. Ia kaget mendapati sang khalifah sedang berbaring, sementara beberapa anak kecil sedang asik bermain-main di sekitarnya. Orang tadi memperlihatkan rasa keheranan melihat hal itu.

Sang Khalifah lalu bertanya, “Jadi bagaimana keadaanmu dengan keluargamu?” Ia menjawab, “Begitu melihatku, keluargaku yang berbicara langsung diam”. Umar berkata kepadanya, “Kalau begitu, kamu turun saja dari jabatanmu. Soalnya kalau terhadap keluarga dan anakmu saja kamu tidak bisa berlaku lembut, bagaimana kamu bisa berlaku lembut terhadap umat Rasulullah SAW?”.
Continue reading