Keutamaan Niat


Umar bin Khathab ra. berkata, “Amal yang paling utama adalah melaksanakan kewajiban dari Allah azza wa jalla, bersikap wara’ (*1) terhadap yang diharamkanNya, dan meluruskan niat untuk mendapatkan pahala di sisi Allah azza wa jalla.

Sebagian ulama salaf berkata, “Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat. Betapa banyak pula amalan besar menjadi kecil karena niat.

Yahya bin Abu Katsir berkata, “Pelajarilah niat! Sesungguhnya niat itu lebih dapat menyampaikan kepada tujuan daripada amal.”

Suatu ketika Ibnu Umar mendengar seseorang berucap di awal ihramnya, “Ya Allah sesungguhnya aku akan menunaikan haji dan umrah.” Ibnu Umar bertanya, “Apakah kamu hendak mengajari orang-orang? Bukankah Allah mengetahui apa yang ada pada dirimu?” (*2)

Yang demikian itu, karena niat adalah kehendak hati. Tidaklah diwajibkan melafalkannya dalam ibadah. (*3)

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

(*1) Simak sikap wara’ Abu Ishaq As-Syairazy. Suatu hari ia memasuki masjid untuk makan seperti biasanya. Ia beranjak pergi dan uangnya tertinggal satu dinar di sana. Di tengah jalan barulah ia ingat, dan tidak menyentuhnya sambil berkata, “Jangan-jangan ini dinar orang lain, dan bukan dinarku.” Demikian termuat dalam Tahdzibul Asma-nya An-Nawawiy I/173

(*2) Riwayat ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Rajab Al_Hambaliy dalam Jami’ Al-Ulum wal Hakim hal. 19

(*3) Pendapat ini berbeda dengan pendapat beberapa ulama madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali.

 

dikutip dari buku Best Seller – Penerbit Pustaka Arafah

“Tazkiyatun Nafs”

Konsep Penyucian Jiwa Menurut Ulama Salafushshalih

hal. 20